Archive for July, 2005
Yang Tercecer
Saturday, July 9th, 2005PHOTOGRAPHER DAN RANJANG PENGANTIN
Apa hubungan Photographer dengan Ranjang Pengantin ? Ada. Tatkala Sang Photographer berjalan ke pelaminan. Tidak dengan modelnya meskipun tak kalah cantiknya. Tapi dengan kencannya konon teman se-SMA.
Memang beda kalau Photographer menikah, resepsinya ramai
dan dibarengi dengan pemeran foto segala.
Para tetamu – dihibur oleh eksibishi foto bermutu, lengkap dengan pesan sponsor – maklum pameran photographer beken
yang dihadiri wartawan dan para selebritis keren.
Sponsornya sekaligus double, biaya pameran dan resepsi pernikahan.
Nonot memang piawi sekaligus entrepreuner kelas tinggi.
Kita tunggu saja karya fotonya sendiri, pada pernikahannya hari ini. Mudah-mudah tidak sampai ke ranjang pengantin karena – meskipun hasilnya bagus tapi gambarnya pasti akan kena berangus.
Nonot – populer juga lho di TRANS TV. Dialah yang memotret 250 karyawan dalam pembuatan ID – lumayan dapet borongan.
Tapi bukan KKN kok. Barangkali bisa disebut “inside trading”. Begitulah Nonot. Nonot yang mana ? ya Nonot titik. Dari surat undangan juga begitu Nonot tok. Nonot Bin siapa ?
Bin Laden. Bukan. Bukan seperti Osama Bin Laden. Nonot saja titik. Swear.
Siapa calon pengantinnya ? Yudith. Yudith ya Yudith. Begitu lho di undangan. Bukan Yudith Binti George W. Bush. Bukan.
Nonot dan Yudith titik. Swear lagi.
Nyentrik ya. Ngundang resepsi kok namanya Nonot dan Yudith tok. Dua-duanya nyentrik ya. Iya lha wong jodoh. Kalau dua-duanya ngga nyentrik khan ya ngga ketemu. Sampean nih gimana sih !.
Dan pesta pernikahan ini berlangsung seru. Hadir sobat, teman, saudara, rekan sekerja bahkan seteru. Sebagian menikmati lukisan, sebagian menikmati minuman dan penganan sebagian lagi menikmati pengantinnya.
Pengantin koq dinikmati, mestinya di doakan biar langgeng, biar selamat meliwati gunung dan tikungan.
Pernikahan itu banyak tanjakan (bukan tonjokan), tikungan dan turunan. Karena itu harus bisa mengatur, harus serasi sepikiran, semoral, seagama (kalau bisa) dan sehasrat agar pernikahan selamat dunia maupun akhirat.
Perkawinan itu bagaikan tanaman. Perlu pupuk dan siraman berkelanjutan.
Pupuknya niscaya cinta yang terus dijaga sampai tua. Siraman adalah maaf, saling memberi dan memahami, rayuan dan kalimat yang menyejuk-kan.
Serta genggaman tangan disetiap kesempatan.
Selamat menikmati bahtera pernikahan Nonot dan Yudith.
Semoga panjang usia, senantiasa mesra, bahagia di perjalanan, selamat sampai keperaduan ranjang pengantin yang hangat, malam ini.
Semoga sehat tidak kurang suatu apa - sampai esok pagi.
Jakarta, 19 September 2001
Ishadi S.K.
Keterangan : Saat itu hanya dua hari lagi memasuki hari yang Fitri, sahabat, teman dekat, Nonot tutup usia setelah menderita sakit sepuluh bulan lamanya. Nonot termasuk peletak fondasi Trans TV. Di Departemen Berita. Sejak awal ia memberi warna baru dalam kelompok pemula stasiun televisi kita. Sebagai photographer profesional ia mengundang saya menyaksikan pameran di Wisma Antara Pasar Baru awal tahun 2001. Ditempat yang sama enam bulan kemudian ia melangsungkan pernikahannya.
Perkawinannya sederhana namun unik. Ada roti buaya, ada foto berbagai rupa, ada artis dan selebritis masa itu, ada teman dekat dan ada pembacaan … . ……puisi oleh saya.
Nonot sampai akhir hayatnya adalah pejuang yang tak mau diketahui. Tat kala nasib membawanya pada ketergantungan cuci darah – karena gangguan ginjal – seminggu lalu ia memutuskan untuk menghentikan upaya yang dianggapnya sia sia itu. Ia tak ingin merepotkan siapa pun. Ia menolak cuci darah dan menghadapi sakit serta penderitaan yang luar biasa, sampai el maut menjemputnya tadi pagi jam 04.00 pagi.
Selamat jalan Nonot. Perjuangan anda di dunia telah ber akhir, Insya Allah semangat anda ke jujuran anda dan taqwa anda diterima dan diperhitungkan Nya. Agar anda diampuni dan di ridhoi menghadapi ujian yang lebih berat diakhirat.
Kami merasa kehilangan. Seorang teman pendiam yang baik hati, yang sejak awal tidak ingin menyusahkan. Seorang pioner di Pemberitaan yang mengajarkan bagaimana membuat gambar dan shot yang cantik. Meskipun untuk sebuah berita.
Manusia berusaha Sang Chalik juga yang menentukan batasannya.
Di akhir puisi yang saya tulis, tanggal 19 september 2001, tiga tahun yang lalu saya mengatakan: “Semoga sehat tidak kurang suatu apa – sampai esok pagi……………”
Tuhan menetapkan esok pagi itu hari ini. Selamat jalan Nonot.
Terima kasih atas pengabdian mu yang banyak di awal Trans TV.
Jakarta, 12 Nopember 2004.
Ishadi S.K.
Hanya Kutipan I
Friday, July 8th, 2005Saat ini aku hanya bisa mengutip. Tak ada kreativitas saat ini. Mungkin karena aku telah terbelenggu dengan semua pekerjaan duniawi. Atau aku saja yang memang sudah semakin malas. Kuberi judul “Hanya Kutipan I”, karena mungkin nanti ada “Hanya Kutipan II”, “Hanya Kutipan III, dan seterusnya. tergantung bagaimana jiwa ini nantinya bergerak.

OCTOBER 3, 1965: In a public speech, Fidel Castro reads a “Farewell” letter written by Che in April, in which Che resigns from all of his official positions within the Cuban government. The letter, which Che apparently never intended to be made public, states that “I have fulfilled the part of my duty that tied me to the Cuban revolution…and I say goodbye to you, to the comrades, to your people, who are now mine.” (CIA Intelligence Memorandum, “Castro and Communism: The Cuban Revolution in Perspective,” 5/9/66
1:30 p.m.: Che’s final battle commences in Quebrada del Yuro. Simon Cuba (Willy) Sarabia, a Bolivian miner, leads the rebel group. Che is behind him and is shot in the leg several times. Sarabia picks up Che and tries to carry him away from the line of fire. The firing starts again and Che’s beret is knocked off. Sarabia sits Che on the ground so he can return the fire. Encircled at less than ten yards distance, the Rangers concentrate their fire on him, riddling him with bullets. Che attempts to keep firing, but cannot keep his gun up with only one arm. He is hit again on his right leg, his gun is knocked out of his hand and his right forearm is pierced. As soldiers approach Che he shouts, “Do not shoot! I am Che Guevara and worth more to you alive than dead.” The battle ends at approximately 3:30 p.m. Che is taken prisoner. (Rojo, 219; James, 14)
OCTOBER 9, 1967: Early in the morning, the unit receives the order to execute Guevara and the other prisoners. Lt. Pérez asks Guevara if he wishes anything before his execution. Guevara replies that he only wishes to “die with a full stomach.” Pérez asks him if he is a “materialist” and Guevara answers only “perhaps.” When Sgt. Terán (the executioner) enters the room, Guevara stands up with his hands tied and states, “I know what you have come for I am ready.” Terán tells him to be seated and leaves the room for a few moments. While Terán was outside, Sgt. Huacka enters another small house, where “Willy” was being held, and shoots him. When Terán comes back, Guevara stands up and refuses to be seated saying: “I will remain standing for this.” Terán gets angry and tells Guevara to be seated again. Finally, Guevara tells him: “Know this now, you are killing a man.” Terán fires his M2 Carbine and kills him. (Dept. of Defense Intelligence Information Report - 11/28/67)