Archive for August, 2005

Alhamdulillah

Friday, August 5th, 2005

Dzihad_chechenia73_pray_1

Di saat waktu berhenti…kosong
Dimensi membutakan mata memekakkan telinga
Lalu diri menjadi hampa
Saat paradigma dunia tak lagi digunakan utk menarka
Sadarku akan hadirMu
Mematahkan sendi² yg biasanya tegak berdiri

Ult li albi bissaraha (Aku membuka hatiku dengan kejujuran)
Hayya nab’idil karaha (Hindarilah kebencian dan dendam)
Syakkireena a’ kulli na’ma (Marilah kekalkan syukur dgn apa yg kita ada)
Ba’ ideena anil fattana (Hindarilah segala penipuan dan dosa²)

Merenungi luar jendela
Mengagumi kebesaran yg Maha Esa
Ku menilai kehidupan dari sudut berbeda
Tak memadai hanya kecapi rasa selesa
Mahukan harta yg mampu beli satu semesta
Berpesta ke parti botol bergelimpangan
Kekasih muda bukan takat berpegang tangan
Harta dan jamuan nafsu tidak berkekalan
Bila menjelang tua bukan itu jadi bekalan
Dan jangan puisi ini disalah tafsir pula
Bukan berkhutbah, cuba betul diri ini cuma
Ingin hidup sempurna, asset nilai berjuta
Saling tukar wanita, senyum dan mati tua
Bakat dikurnia jangan disalahguna
Jangan kufur nikmat yg diberi percuma
Guna kelebihan utk khidmat bersama

Dzihad_chechenia45

Jagalah nama
Hidup penuh pementasan dan drama
Ada berisi ada yg kurus
Ada melencong ada yg lurus
Bukan semuanya tulus
Ada sempurna ada kurang upaya
Ada yg jadi buta hanya bila sudah kaya
Sebesar rumah bermula dengan sekecil bata
Boleh hilang dalam sekelip mata
Ucaplah Alhamdulillah bukannya sukar
Kerna semana kaya atau besar
Tetap Allahuakbar…

Ult li albi bissaraha (Aku membuka hatiku dengan kejujuran)
Hayya nab’idil karaha (Hindarilah kebencian dan dendam)
Syakkireena a’ kulli na’ma (Marilah kekalkan syukur dgn apa yg kita ada)
Ba’ ideena anil fattana (Hindarilah segala penipuan dan dosa²)

Jadikanlah ku tentera Fisabilillah
Yang tertera di kalimah harap memanduilah kita apabila persimpangan tiba
Hidup penuh dengan rintangan harus kuhadapinya
Harap ku tidak lupa diri bila gembira
Dan cuma mu

-Too Phat-

marriage

Wednesday, August 3rd, 2005

Aku menjadi terjaga, setelah membaca blog salah seorang kawanku di friendster ini. Tentang perkawinan. Panjang lebar. Kenapa harus menikah? Iya, kenapa nggak menikah? Sepenting itukah perbuatan itu harus dilakukan? Kalau itu ditujukan kepada diriku, mungkin aku tak dapat menjawabnya dengan jawaban yang memuaskan. Mungkin lebih cocok, itu hanya bisa dirasakan. Ada lelucon lama yang sering dilontarkan oleh pengantin baru,
“Enak nggak married?”
“Wah, nyesel gue”
“Koq nyesel, bukannya enak?”
“Nyesel kenapa nggak dari dulu”
Apakah itu merupakan ungkapan kebebasan? Bebas, karena yang tadinya haram dilakukan, kini telah halal. Apa jangan- jangan itu hanya nyala api sementara. Sedikit mengutip dari kawan saya: setelah sekian lama bersama nantinya, mereka akan terbiasa. Dan tak ada lagi cinta.
Benarkah demikian. Jika demikian terjadi, lalu apa yang mendasari mereka untuk menikah pada awalnya? Cinta sesaat? (atau cinta sesat?) Atau jangan- jangan karena fisik semata.
Kalau tidak menikah, lalu apa? Kumpul kebo? Hidup bersama dalam satu atap. Dan ketika sudah tidak ada lagi kecocokan, tinggal bubar. Dan akhirnya menempatkan posisi kita sama rendahnya dengan binatang. Jadi, aku pikir, semua yang kita perbuat, akan menghasilkan konsekwensi. You like it or not. Kita menikah, maka akan banyak kerepotan dan masalah yang datang. Kita tidak menikahpun tetap akan ada masalah yang datang.
Aku pikir, aku dihidupkannya bukan tanpa kesengajaan. Bukan tanpa misi. Dan mungkin salah satu misi yang harus aku lakukan adalah menikah, membentuk keluarga. Aku bukan milikku sendiri. Ada skenario besar yang bermain di sini. Dan memang butuh keberanian yang besar untuk melakoni peran ini.
Tulisan ini jauh dari kesempurnaan. Tapi semoga dapat meredam kugundahan kawan- kawan lainnya.

Specialromance4x6

Let me not to the marriage

Let me not to the marriage of true minds Admit impediments; love is not love Which alters when it alteration finds, Or bends with the remover to remove. Oh, no, it is an ever fixed mark That looks on tempests and is never shaken; It is the star to every wand’ring bark, Whose worth’s unknown, although his height be taken. Love’s not Time’s fool, though rosy lips and cheeks Within his bending sickle’s compass come; Love alters not with his brief hours and weeks, But bears it out even to the edge of Doom. If this be error and upon me proved, I never writ, nor no man ever loved. William Shakespeare