Bukan Warak!
Apa sich yang kamu cari Rie? Pertanyaan itu tiba-tiba membuyarkan lamunanku di atas motor ojek ini. Angin pagi yang sejuk, kembali meringankan kepalaku. Kenapa pertanyaan itu bisa muncul?
Dulu sekali, aku sempat dibuat tak bisa tidur karena takut memikirkan aku harus disunat. Ritual yang wajib dijalani bagi seluruh anak- anak muslim. Hingga pada waktunya kemudian, perasaan itu hilang dengan sendirinya. Masa itupun lewat.
Atau aku pernah juga dibuat tak bisa tidur gara- gara besok aku harus ikut ospek. Ternyata, hanya segitu aja seramnya. Malah yang seharusnya aku mewaspadai ospek jurusan.
Malam- malam yang diisi dengan tidur yang tak nyenyak. Dengan sejuta alasan pemicunya. Hingga pada akhirnya, semuanya dapat dilewati.
Setiap aku berada dalam keadaan yang membuatku berada pada titik terendahku, aku selalu berpikir, ini semua pasti akan berakhir. Keoptimisan? Mungkin?!
Hingga akhirnya, aku berada pada titik yang aku sendiri tak dapat mengerti. Aku memikirkan kematian. Apa yang terjadi di satu detik kemudian? Di satu menit kemudian? Di satu jam kemudian? Satu hari, satu bulan, satu tahun, satu dengan satuan hitung lainnya? Apa yang akan terjadi? Semakin aku pikirkan malah semakin gelap. Apakah aku siap untuk menerima kenyataan bahwa, semua yang aku kenal, yang aku sayangi meninggalkan diriku?
Tiga kali kehilangan kucing kesayanganku saja sudah cukup melemahkanku. Apalagi jika pertanyaan tadi menghantamku. Apakah aku siap untuk mati? Dengan bekal yang sekarang aku kumpulkan, aku rasa tidak!
Setiap pagi, dengan lamunan yang berbeda. Namun dengan pertanyaan yang sama, "Apa sich yang kamu cari Rie?"