Yang Tercecer di Hari Kemenangan
Semenjak peraturan konyol itu dibuat, sudah tak ada lagi yang baru di blog ini. Masih simpang siur kenapa peraturan itu dibuat. Tapi yang jelas mematikan kreativitas yang seharusnya dibiarkan mengalir deras.
Di Idul Fitri kemarin sebenarnya banyak cerita yang bisa kusimpan di blog ini. Apa daya, baru sekarang bisa. Dan banyak yang hilang di sana- sini. Mulanya aku pikir Idul Fitri kali ini hanya akan menjadi ritual biasa. Pasang muka manis, banyak senyum, minta ma’af dengan semua orang (bahkan dengan orang yang jarang sekali ketemu, beberapa malah cuma ngomong "minal aidin" saja tanpa mengerti arti dari dua kata tadi), terus berkunjung ke rumah sanak saudara, sambil tak lupa menyiapkan uang buat para keponakan. Intinya, seperti tulisan seorang Orientalis, Idul Fitri adalah perpaduan dari Natal, Paskah, dan Thanksgiving. Makna lainnya … semakin kabur.
Tapi ternyata tidak seburuk itu. Ada beberapa hari yang aku bisa nikmati. Walaupun itu hanya menjadi bagian kecil dari hari- hari yang panjang.
Ada kejadian unik yang sempat menarik perhatianku. Di hari kedua Idul Fitri, saat shalat Jum’at belum dimulai, kulihat seorang anak kecil dengan bersemangat mendatangi kotak amal. Mulanya tak ada yang istimewa dengannya. Dia memasukkan uang ke dalam kotak itu. Seribu rupiah, lalu seribu rupiah lagi, dan seribu rupiah lagi, lagi, lagi, dan lagi, hingga aku hilang hitunganku. Entah sudah berapa lembar uang seribu rupiah yang ia telah masukkan. Dan dari raut wajahnya, hanya perasaan exiting, gembira, tanpa bermaksud untuk pamer. Sontak hal ini menamparku. Sebelumya aku juga telah memasukkan uang ke dalam kotak amal ….dengan jumlah yang jauh lebih kecil ….dengan maksud mencemooh orang di sampingku yang diam saja saat kotak itu lewat di depannya. Dan kini, setelah kejadian tadi, rasanya aku yang telah dicemooh olehnya.
Subhanaallah! Hikmah selalu datang tanpa diduga. Mengingatkan diriku atas kekerdilanku. Menusuk tajam ke relung hati. Dan aku bersalah. Di saat aku menghakimi orang- orang awam, artis- artis, yang lebih senang menyebut Idul Fitri dengan kata Lebaran, aku mendapat peringatan keras dari Allah.
Yaa Allah, ini hamba-Mu memohon ampun-Mu. Dengan segala kefanaan, dan kekurangan, aku berserah diri.