Dari seorang kawan (3)
Intinya, sebagai umat Islam kita wajar marah dan hati kita harus sedih karena orang yang kita cintai, kasihi dan teladani sudah dijadikan lelucon dan dilecehkan. Nabi Muhammad adalah sosok mulia dalam Islam yang pasti mendapat tempat khusus di sanubari kita. Kita harus membela kemuliaannya; jika tidak bisa dengan tangan maka dengan lidah dan jika tidak bisa dengan lidah maka dengan hati. Tapi kita harus menghindari perbuatan anarkis. Sesuai ajakan Aa Gym dan Bang Dien Syamsuddin bahwa kemarahan kita harus diluapkan dalam koridor-koridor kebeningan hati dan akhlak yang mulia.
Ini sejalan dengan firman Allah yang mewajibkan kita menyeru kepada Islam dengan hikmah dan contoh yang baik. Kalaupun harus berdebat dan berbantah-bantahan maka debat dan bantahlah mereka dengan cara sebaik-baiknya. Karena Allah lebih mengetahui mana orang-orang yang sesat dan mana orang-orang yang mendapat petunjuk. Dengan begitu kita juga belajar menjadi manusia
yang bijak.
Mari kita semua jadikan kejadian ini sebagai hikmah yang mengandung banyak nilai bagi pendewasaan kehidupan beragama. Kita berusaha memaafkan kebodohan dan keangkuhan mereka untuk memberi mereka kesempatan berpikir, memahami dan selanjutnya menghormati Islam. Di masa-masa yang akan datang diharapkan mereka akan semakin obyektif dan introspeksi diri untuk lebih dapat menghormati kita. Kalaupun tidak, kita serahkan semua kepada Allah. Nabi tak perlu dibela dengan Anarkis.