Iseng- iseng

Iseng- iseng dalam kesendirian ini saya berpikir (walau sungguh disayangkan kalau berpikir hanya untuk iseng- iseng), betapa pentingnya memberontak. Dan memang dunia ini akan selalu membutuhkannya. Mana bukti empirisnya? Hanya orang tolol saja yang masih menyangsikannya. Mulai dari para nabi yang melakukan pemberontakan atas kemapanan jahiliyah, hingga nabi- nabi kontemporer yang dengan niatan yang hampir sama dengan pendahulunya.

Kenapa harus memberontak? Sebelumnya harus dilihat dulu pemicunya. Dalam sejarah ada dua agama mendasar, ada dua kelompok, ada dua pihak. Satu pihak menindas, musuh kemajuan, kebenaran, keadilan, kebebasan rakyat, pembangunan dan peradaban. Pihak ini meligitimasi keserakahan dan menyelewengkan instink dan menegakkan dominasinya atas masyarakat dan untuk menindas orang lain. Dan pihak yang lain adalah pihak agama yang benar dan diturunkan untuk menghancurkan pihak lawan. Kesimpulannya pihak pertama menjadi pemicu munculnya pemberontakan yang berasal dari pihak kedua.

Jika dulu saat para Nabi penggembala kambing (Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad, salam sejahtera atas mereka semua) melakukan pemberontakan, keadaannya juga tidak terlalu beda dengan sekarang. Mereka semua memberontak atas kemapanan agama- agama multiteisme yang berakar dari pemilikan minoritas atas mayoritas yang tertindas, legitimasi status quo, dan promosi superioritas kelas. Dan seperti janji Allah dalam Al Qur’an, semuanya akan kembali terulang. Semua yang terjadi pada mereka pada saat itu, kita rasakan kembali saat ini.

Jadi terjawab sudah mengapa kita harus memberotak. Saya tertarik dengan pernyataan Abu Dzar Al-Ghifari atas kegelisahannya dengan keadaan sekitarnya. Beliau berkata: "Aku bingung oleh orang yang tidak mempunyai sepotong roti pun di rumahnya. Mengapa ia tidak bangkit melawan orang- orang dengan pedang terhunusnya?" Mari kita lihat apa yang dikatakan Abu Dzar. Dia mengatakan, "Aku bingung…." Agama inilah yang sedang berbicara, bukan sekedar seseorang yang beragama. Secara esensi Abu Dzar tidak dipengaruhi oleh aliran pemikiran yang lain. Dia tidak mulai dari Revolusi Perancis melainkan dia berbicara kepada suku Ghifari. Dia berkata, "Aku bingung oleh orang yang tak mempunyai sepotong roti pun di rumahnya. Mengapa ia tidak bangkit melawan orang- orang dengan pedang terhunusnya?"

Dia tidak mengatakan, "Melawan orang yang membuatnya miskin, "Melawan golongan yang mengeksploitasi." Dia mengatakan, "Melawan orang- orang." Setiap orang. Karena setiap orang yang hidup dalam masyarakat, sekalipun mereka tidak berada di antara mereka yang mengeksploitasi yang lain, hanya karena kenyataan bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat, bahwa mereka hidup dalam suatu masyarakat di mana terdapat kemiskinan, maka mereka bertanggung jawab terhadap kemiskinannya dan kelaparannya. Karena mereka sama halnya dengan seorang musuh.

Bahkan Allah sendiri menyatakan dalam Al Qur’an: "Sesungguhnya orang- orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) para melaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?" Mereka menjawab: "Adalah kami orang- orang yang tertindas di muka bumi." Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah ke bumi itu?" Oran- orang itu tempatnya di neraka jahanam, Jahanam adalah seburuk- buruknya tempat kembali. Kecuali mereka yang tertindas, baik laki- laki atau perempuan, atau anak- anak yang tidak mampu berdaya upaya atau tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). Mereka itu mudah- mudahan Allah mema’afkannya. Dan Allah Maha Pema’af, Maha Pengampun." (An-Nisa 97-99)

Tuhan dan orang- orang yang tertindas membentuk satu barisan dalam Pentateuch dan Gospel (bagian- bagian yang belum diselewengkan sehingga memungkinkan dilakukannya deduksi dari bagian- bagian tersebut), dalam Al Qur’an dan di mana saja tanpa kecuali. Siapa yang menentang barisan ini? Para penyembah penguasa arogan yang melawan perintah- perintah Tuhan, taghuti. Dan selamanya akan terus menerus bangkit melawan semua penyelewengan ini,

-CHe-

 

Leave a Reply