Archive for September, 2006

Tuhan saya beda

Saturday, September 23rd, 2006

Allahclouds
Belasan tahun saya telah terbiasa dengan ajaran Pancasila, terutama dengan sila pertamanya. Dan seorang kawan saya malah merasa tersinggung dengan pernyataan sila ini, yang dianggapnya menyamaratakan Tuhannya dengan Tuhan- tuhan lainnya. Kupikir masuk akal. Siapa yang mau menyamakan kekasih kita, atau orangtua kita dengan individu lain yang mungkin lebih jelek dari mereka. Di salah satu blog kawan saya tertulis kalau dia menulis kalau sebenarnya kita semua menyembah  pada Tuhan yang sama. Benarkah?
Mungkin dia tidak sendiri. Dari pengamatan saya pribadi pendapat bahwa "kita menyembah pada Tuhan yang sama dengan cara yang berbeda" telah populer. Terima kasih untuk Pancasila. Dan keadaan ini dikuatkan oleh media masa, yang senang menggembar- gemborkan kehidupan pasangan beda agama yang dapat hidup harmonis.
Allahterrecoran
Tapi untuk saya, Tuhan saya beda. Bagaimana saya menggambarkan Tuhan yang saat ini saya masih sembah, dengan Tuhan yang lainnya? Mungkin seperti ini. Jika Tuhan yang lain butuh berhari- hari untuk menciptakan alam ini, Tuhan saya tidak. Cukup dengan satu kehendak, semuanya terwujud. Saat Tuhan yang lain butuh untuk disembah, Tuhan saya tidak. Bahkan jika ada satu generasi yang tidak menyembahnya, Dia akan menggantinya dengan satu generasi lain yang mau. Bila hamba Tuhan yang lain butuh perantara agar permohonannya sampai ke-Dia, Tuhan saya tidak. Cukup secara pribadi, dalam keadaan apapun, lisan maupun dalam hati. Bahkan hanya baru berupa niat.
Betapa indahnya Tuhan yang saya sembah. Dia bukan Tuhan yang menyuruh hambanya untuk memberikan bagian tubuhnya yang lain untuk disakiti, setelah bagian lainnya disakiti terlebih dulu. Atau yang senang membuat hambanya bingung dengan segala cerita yang tidak masuk akal dalam kitabnya, yang pada akhirnya hanya akan menjadi dongeng karena hal tersebut tidak mungkin terjadi.
Jadi saya pikir jika ada dua pasang manusia. Yang masing- masing memiliki Tuhan yang berbeda. Ya.. tidak mungkinlah bersatu dalam satu frame yang bernama keluarga. Yang Satu memperbolehkan makan  dan minum apapun, dan yang Lainnya hanya memperbolehkan makan dan minum dari sesuatu yang Dia anggap baik untuk hambanya. Yang Satu membiarkan pemisahan Dirinya dari kehidupan hambanya, Yang Lainnya menuntut totalitas dari hambanya. Dan banyak perbedaan lainnya yang cenderung melemahkan kekuatan rohaninya, dan menguatkan nafsunya.   
Akhirnya, ini hanyalah sebuah uneg-uneg dari saya yang coba saya lepaskan agar dapat meringankan kepala saya. Kebenaran dari isi tulisan saya inipun mungkin masih bisa diperdebatkan. Toh pemilik kebenaran hakiki hanyalah Dia, pemilik tubuh ini. Dan semua kesalahan dalam tulisan ini merupakan sumbangan dari setan sang musuh abadi.

-CHe-

Ada …..

Thursday, September 21st, 2006

Ada orang yang takut sama hantu, jin, tuyul, kunti, dan mahkluk halus lainnya. Saking takutnya kadang jadi parno sendiri. Terus kalau mau ke suatu tempat sendirian, pasti minta di temani. Kalau nggak, ya… nggak jadi pergi. Walaupun kebelet.
Ada orang yang takut sama orangtuanya. Saking takutnya jadi nggak jujur. Karena kalau jujur malah lebih runyam urusannya. Terus kalau mau melakukan sesuatu yang kira- kira bakal dilarang sama ortunya, dia akan lakukan diam- diam. Underground. Kalau pacaran dilarang, dia lakukan secara backstreet. Tahu- tahu, malah jadi nggak beres urusannya.
Ada orang yang takut sama bos, atau pimpinan tempat dia bekerja. Saking takutnya kadang sering membuatnya jadi bukan dirinya. Jadi orang lain. Seperti punya kepribadian ganda. Kalau ada kebijakan bosnya yang nggak sesuai dengan keinginannya, dia cuma berani ngedumel di belakang. Paling banter cerita ke temannya. Tapi nggak pernah sampai membuat protes. Karena dia takut sama bosnya, jadi dia juga berusaha membuat bawahannya takut sama dia. Dengan begitu dia tetap masih bisa menyalurkan kefrustasiannya. Kalau dia kena marah bosnya, bawahannya pasti juga kena efeknya. Dan karena takut sama bosnya, dia jadi penjilat. Apapun dia lakukan untuk membuat bosnya senang.
Ada orang yang takut sama pencopet, maling, perampok, dan semua teman penjahat. saking takutnya membuat dia menjadi waspada. Tapi karena berlebihan, malah jadi parno. Semua orang diwaspadai. Semua orang dicurigai. Pikirannya jelek aja. Kalau kemana- mana, persiapannya lengkap. Dompet ditaruh di dalam celana, yang dilapisi celana lagi. Walhasil, dia selalu berdobel- dobel ria dalam berpakaian. Lebih baik kepanasan, daripada jadi korban kejahatan.
Masih banyak lagi macam- macam orang dengan ketakutan yang berbeda. Tapi satu ketakutan yang selalu aku inginkan, yaitu takut kepada Alloh. Hal yang paling sulit untuk dilakukan. Terbiasa untuk meminggirkan-Nya, menyangkal keberadaan-Nya, dan pada akhirnya, berani melawan-Nya.
Demi Zat yang memiliki jiwaku, jiwa orang- orang yang kukasihi, dan semua yang berada di bawah kaki langit, aku berlindung dari semua perasaan jahat, perasaan untuk bersahabat dengan musuh abadiku, setan yang sombong. Aku berlindung dari keinginan untuk menduakan-Mu. Keinginan untuk membuat-Mu marah. Yaa Rahman, Yaa Rahim, dengan segala kerendahan, kehinaan, dan ketakberdayaan yang selalu menyelimutiku, kabulkanlah permohonanku ini.

-CHe-

Sekali lagi

Tuesday, September 19th, 2006

Sekali lagi umat Islam mendapatkan cobaan. Sekali lagi umat Islam mendapat hinaan. Dan kali ini datangnya dari pemimpin agama yang harusnya, dari mulutnya muncul kata- kata yang dapat meredakan semua ketegangan ini. Saya pribadi melihat ini merupakan cerminan dari semua yang ada di kepala orang di luar Islam. Ini merupakan pernyataan dari ketakutan seseorang yang mempunyai pengetahuan yang minim tentang Islam. Yang pada akhirnya, pernyataan-pernyataan Paus sebagai pandangan gereja Katolik terhadap Islam.
“Ajaran Kristiani selalu terikat dengan logika. Kaum Kristiani berbeda
pandangan dengan orang-orang yang yakin dengan pola penyebaran agamanya
dengan pedang,” demikian ungkap Paus seperti dilansir Reuters. Begitukah Islam dalam pandangannya, atau hanya itu saja yang beliau ingin ketahui dari Islam?
Seandainya beliau tahu, Islam adalah agama untuk keselamatan seluruh alam. Tidak hanya pada masa damai, namun juga pada masa perang. Kami kaum Muslimin dilarang keras untuk menyakiti wanita, anak- anak, orang tua, pohon, dan rumah ibadah, saat berperang. Hal yang tak pernah terjadi jika kaum palangis sedang berperang. Tak bisakah beliau melihat bukti sejarah,  bagaimana Solahuddin memperlakukan tawanan perang saat perang salib? Hal yang tak pernah terjadi pada kaum palangis saat mereka berperang.
Beliau telah meminta ma’af. namun seharusnya beliau mengucapkan:“Saya mengakui apa yang saya ucapkan, saya melihat Islam adalah sesama
agama langit, agama yang memiliki kasih sayang, perdamaian,
koeksistensi, persaudaraan dan keadilan antara manusia. Dan apa yang
telah disebutkan tentang keburukan Islam menyebarkan agama dengan
pedang adalah perkataan yang tidak benar dan bertentangan dengan
sejarah.”
Kami agama damai, tapi kami tak pernah dapat mentoleransi apapun yang berarti merendahkan agama kami. Semoga ini menjadi yang terakhir!

Sang harimau yang terluka

Saturday, September 2nd, 2006

Bila saja semua ini berawal dari arah yang berbeda,
dari kumpulan,
mimpi dan jiwa yang berbeda,
demi masa yang mengikat raga,
ku yakin takkan begini jadinya.

Harimau takkan pernah melupakan warnanya,
taring dan cakarnya,
insting untuk membunuh mangsanya,
dan naluri untuk bertahan dan membela.

Semua yang telah dipaksa untuk pergi,
kini satu persatu datang menghampiri,
mencoba untuk tetap ada,
membuka kembali semua luka.

Harimau itu kini telah kembali,
setelah lama menghilang ke tanah tinggi,
demi warna, taring dan cakarnya,
harimau kembali terluka.

-CHe-