Tuhan saya beda

Allahclouds
Belasan tahun saya telah terbiasa dengan ajaran Pancasila, terutama dengan sila pertamanya. Dan seorang kawan saya malah merasa tersinggung dengan pernyataan sila ini, yang dianggapnya menyamaratakan Tuhannya dengan Tuhan- tuhan lainnya. Kupikir masuk akal. Siapa yang mau menyamakan kekasih kita, atau orangtua kita dengan individu lain yang mungkin lebih jelek dari mereka. Di salah satu blog kawan saya tertulis kalau dia menulis kalau sebenarnya kita semua menyembah  pada Tuhan yang sama. Benarkah?
Mungkin dia tidak sendiri. Dari pengamatan saya pribadi pendapat bahwa "kita menyembah pada Tuhan yang sama dengan cara yang berbeda" telah populer. Terima kasih untuk Pancasila. Dan keadaan ini dikuatkan oleh media masa, yang senang menggembar- gemborkan kehidupan pasangan beda agama yang dapat hidup harmonis.
Allahterrecoran
Tapi untuk saya, Tuhan saya beda. Bagaimana saya menggambarkan Tuhan yang saat ini saya masih sembah, dengan Tuhan yang lainnya? Mungkin seperti ini. Jika Tuhan yang lain butuh berhari- hari untuk menciptakan alam ini, Tuhan saya tidak. Cukup dengan satu kehendak, semuanya terwujud. Saat Tuhan yang lain butuh untuk disembah, Tuhan saya tidak. Bahkan jika ada satu generasi yang tidak menyembahnya, Dia akan menggantinya dengan satu generasi lain yang mau. Bila hamba Tuhan yang lain butuh perantara agar permohonannya sampai ke-Dia, Tuhan saya tidak. Cukup secara pribadi, dalam keadaan apapun, lisan maupun dalam hati. Bahkan hanya baru berupa niat.
Betapa indahnya Tuhan yang saya sembah. Dia bukan Tuhan yang menyuruh hambanya untuk memberikan bagian tubuhnya yang lain untuk disakiti, setelah bagian lainnya disakiti terlebih dulu. Atau yang senang membuat hambanya bingung dengan segala cerita yang tidak masuk akal dalam kitabnya, yang pada akhirnya hanya akan menjadi dongeng karena hal tersebut tidak mungkin terjadi.
Jadi saya pikir jika ada dua pasang manusia. Yang masing- masing memiliki Tuhan yang berbeda. Ya.. tidak mungkinlah bersatu dalam satu frame yang bernama keluarga. Yang Satu memperbolehkan makan  dan minum apapun, dan yang Lainnya hanya memperbolehkan makan dan minum dari sesuatu yang Dia anggap baik untuk hambanya. Yang Satu membiarkan pemisahan Dirinya dari kehidupan hambanya, Yang Lainnya menuntut totalitas dari hambanya. Dan banyak perbedaan lainnya yang cenderung melemahkan kekuatan rohaninya, dan menguatkan nafsunya.   
Akhirnya, ini hanyalah sebuah uneg-uneg dari saya yang coba saya lepaskan agar dapat meringankan kepala saya. Kebenaran dari isi tulisan saya inipun mungkin masih bisa diperdebatkan. Toh pemilik kebenaran hakiki hanyalah Dia, pemilik tubuh ini. Dan semua kesalahan dalam tulisan ini merupakan sumbangan dari setan sang musuh abadi.

-CHe-

2 Responses to “Tuhan saya beda”

  1. SariO Says:

    good point! ;)

  2. DeTigaWeii Says:

    gw tetep beranggapan klo Tuhan itu 1 buat semua umat manusia. klo ga, kok kesannya gw malah jadi mikir, “berarti ada banyak Tuhan dong”

Leave a Reply