Archive for October, 2006

Beli aja dech….

Friday, October 13th, 2006

Sore itu istriku pulang kerja sambil membawa sekotak donat. Saya lihat, koq mereknya nggak jelas begitu. Lalu saya tanya, "Bunda beli donat di mana?" "Tadi ada bapak- bapak jualan di bis. Udah sore tapi barang jualannya masih banyak. Jadi aku beli aja. Kasihan." Nggak cuma sekali ini istriku melakukannya. Dulu ia juga pernah membeli hiasan berupa boneka kecil untuk dipasang di mobil. Karena kami tidak memiliki mobil, jadi saya tanya kenapa dibeli. Jawabannya sama, "Kasihan sama sibapak yang jualan."
Kadang kita sering meremehkan kejadian ini. Di bis, di kereta, atau di jalan. Karena kita mungkin sudah punya atau memang tidak membutuhkan barang tersebut, kita jadinya tidak peduli. Kepekaan sosial yang seharusnya kita miliki sebagai mahkluk Tuhan, tergantikan dengan rasionalitas kita. Padahal mungkin kita pernah mendengar sifat Rasulullah yang diriwayatkan tak pernah menolak seseorang yang meminta sesuatu
kepada beliau. Kalau perlu beliau membantu dengan meminjam dahulu
kepada orang lain. Atau tahu ayat yang berbunyi: "dan barangsiapa dipelihara dari kekikiran jiwanya, maka merekalah orang-orang yang beruntung" (QS. al-Hasyr:9). Tapi lebih seringnya kita meminggirkan hikmah tersebut.
Saya jadi malu sendiri rasanya kalau ada orang lain yang mendahului saya. Sementara saya mengajarkan kepada orang lain untuk lebih peka kepada sesama, di sisi lain saya masih berlaku egois. Semoga Alloh melindungi dan menjaga kita dari semua perbuatan yang membuat-Nya murka.

-CHe-

INTIFADHAH

Tuesday, October 10th, 2006

Intifdhah1

“Kullu aam wa antum bi khair.. ud’u li hasan nashrallah wa ismail
nahiya fi hadzihil ayyam mubarakah” (semoga kebaikan selalu menyertai
anda, berdo’alah untuk Hasan Nashrallah dan Ismail Haniyah di hari-hari
penuh barakah ini).
“Allahhumma haashir man haashara sya’b filisthini, wa yamna’ wushul
rawateb lil muqawemin wal muwazafein”, (Ya Allah kepunglah orang-orang
yang mengepung bangsa Palestina, dan melarang masuknya dana bantuan
untuk para pejuang dan honor para pegawai).
“Allahumma ya muqallibal quluub, ijma’ bainal hukkam arab wa bush wa
blair wa Sharon yauma yaquumul asyhaad,” (ya Allah yang membolak
balikkan hati, kumpulkanllah pemerintah Arab, berikut Bush, Blair dan
Sharon saat hari persaksian).

Yaaaah….lupa lagi

Tuesday, October 10th, 2006

Memang benar kata orang, manusia itu tempatnya khilaf dan dosa. Kalau nggak berbuat seperti itu pastinya jadi malaikat. Seperti halnya yang terjadi pada diri saya ini. Pagi- pagi setelah shalat subuh, sudah terpikirkan apa saja yang akan saya kerjakan pada hari ini, dan apa saja yang akan saya bawa pada hari ini. Dan rencana tersebut kembali saya ulang dalam hati biar tambah ingat. Tapi anehnya, pasti ada saja yang ketinggalan. Dan kalau sudah begitu, paling saya cuma bisa berkata lirih, "Yah lupa lagi".
Untuk penyakit ini, manusia memang jagonya. Dan memang belum ketemu kasusnya ada binatang yang pelupa. Bahkan untuk penyakit ini Tuhan sampai berkali- kali mengirimkan Nabi dan Rasul-Nya. Dengan tujuan agar bisa menyembuhkan, minimal mereduksi agar nggak sampai parah bener. Maksudnya penyakit lupa yang coba disembuhkan itu adalah lupa akan orientasi hidupnya. Seperti maksud tujuan awal penciptaan manusia, yaitu sebagai abdi Tuhan, sebagai wakil-Nya di bumi, dan terakhir sebagai pemberi rahmat kepada alam sekitar. Dan karena parahnya penyakit ini, sampai 25 Nabi dan Rasul yang turun untuk membereskannya. Hasilnya, mereka kembali lupa.
Kata kawan saya, sebenarnya orang lupa itu sebenarnya ingat. Karena ketika dia sadar telah lupa akan sesuatu, pada saat itu sebenarnya dia telah ingat. Benar nggak sich. Tapi memang kawan saya itu sudah kebanyakan membaca buku- buku filsafat. Namun terlepas dari itu, sifat lupa yang mendarah daging pada diri manusia itu, telah cukup membuat kerusakan yang berarti di muka bumi. Lupa bahwa dia hanyalah seorang hamba dari Yang Maha Besar, membuat dia berani memproklamirkan dirinya sebagai tuhan. Dengan angkuhnya menganeksasi wilayah lain dan menjajahnya. Atau dia lupa kalau dia harus mampu menjadi wakil-Nya di muka bumi ini, bukan sebagai kaum yang mau ditindas. Yang berarti juga dia harus menerapkan hukum buatan Tuhannya, dan bukan hukum- hukum buatannya sendiri. Dan dia lupa bahwa dia harus dapat memberi kebaikan pada lingkungan sekitarnya. Bukannya malah menjadi aktor perusak dan penghancur.
Masalahnya sekarang tak akan ada lagi Nabi atau Rasul untuk memperbaiki semua ini. Tak ada lagi Nabi dan Rasul yang mengingatkan kita. Saat kesalahan terucap, saat kejahatan terbuat, lalu hati dan raga tersakiti, akankah kita berucap, "Yaaaa….. lupa lagi"??!

-CHe-

Muhasabah

Thursday, October 5th, 2006

49292051_b55ae82656_o
10 hari pertama bulan Ramadhan sudah lewat aja. Nggak terasa cepat banget. Dan apa yang saya lakukan selama bulan ini, cenderung seperti bulan- bulan lalu saja. Hampir nggak ada bedanya. Sebenarnya merugikan sich. Tapi kalau yang bicara nafsu, banyak banget alasannya. Mungkin karena saya belum dibenturkan dengan keadaan sulit saat berpuasa. Ini jadi mengingatkan saya pada buku yang saya pernah baca. Yaitu tentang kisah seorang tentara muslim Amerika, yang terkena fitnah dari pemerintahnya sendiri hingga dia dipenjara berbulan- bulan tanpa memperdulikan hak- haknya. Dan selama masa penahanannya itu dia tetap berpuasa. Sementara lingkungan penjara yang tidak kondusif seperti gangguan yang dia terima saat shalat, makanan penjara yang sengaja diberikan tidak halal, hingga kesempatan untuk mengaji yang dipersulit, justru menambah tebalnya iman.
Bertolak belakang dengan apa yang dia derita dengan yang saya alami sekarang, justru membuat saya menjadi pemalas. Semua kemudahan yang saya dapat menjadi cobaan sendiri buat saya. Dan saya gagal. Mungkin ini menjadi pembukti dari janji Alloh, bahwa manusia lebih tahan diuji dengan penderitaan daripada dengan kesenangan.
Tundukpadanya140
Dan saat malam tiba, saat kesunyian mulai menemani saya ke pembaringan. Saat itulah hati ini mulai bicara. Ingatan- ingatan tentang masa lalu, ketika kecil, lalu beranjak besar, sekolah, kemudian kuliah, lalu menikah, dan mempunyai anak, hingga sampai pada batas saya tak bisa lagi membayangi apa- apa lagi, saya diingatkan pada kematian.
Semua yang bernyawa pasti akan kembali pada Dia. Dan melihat bekal yang saya persiapkan selama ini, saya tak yakin dapat melaluinya dengan baik.
Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari akhir yang buruk. Wahai Zat yang selalu membolak- balikan hati ini, tetapkan hati pada jalan-Mu. Saat menerima kesulitan maupun kemudahan, kehinaan maupun kemuliaan, kesedihan maupun kesenangan. Robbana, dengan segala kekurangan dan ketidakpantasan, aku memohon.

-CHe-

Mau apa lagi…

Monday, October 2nd, 2006

Setelah seminggu nggak masuk kantor karena libur dan cuti, rasanya fresh banget saat masuk kantor lagi. Seminggu nggak ketemu tampang- tampang bete dan stres. Seminggu nemenin Shamil di rumah. Main sepanjang waktu.
Dan selama libur itu, sebenarnya banyak ide- ide yang mau saya tumpahkan dalam blog ini. Tapi sekonyong- konyong semuanya hilang setelah berhadapan dengan layar komputer.
Ada satu yang jadi kegundahan hati saya selama menonton acara buka puasa dan sahur di teve. Koq semakin lama semakin jauh dari nilai Islami ya?! Lebih banyak lawakan, banyak tertawa, banyak kuis, tapi kosong. Saya melihat sepertinya yang mau dituju itu nggak ada. Muatan Islamnya sangat sedikit. Ustad atau orang berkompeten di bidang itupun mendapat porsi yang sangat sedikit untuk membagi ilmunya. Dan cenderung untuk dipinggirkan.
Kuisnya yang banyak itu, malah menjadi bahan lelucon. Pertanyaan- pertanyaan dengan jawaban yang sejujurnya, mungkin bisa jadi tolak ukur umat muslim saat ini, sangat mudah. Bahkan keponakan saya yang masih belajar di TKA saja bisa menjawabnya. Dan tragisnya ada saja yang salah dalam menjawabnya.
Kalau sudah begitu, saya berharap ada pertandingan bola pada saat sahur. Entah siaran langsung atau tunda.
Saya tak ingin dibilang sok bijaksana. Saya hanya mengkhawatirkan anak- anak saya. Apa yang terjadi hari ini, (tanpa bermaksud mendahului Alloh) mungkin bisa lebih parah di kemudian hari. Walau tak tertutup kemungkinan dengan kekuasaan-Nya, semua bisa menjadi lebih baik.

-CHe-