Yaaaah….lupa lagi

Memang benar kata orang, manusia itu tempatnya khilaf dan dosa. Kalau nggak berbuat seperti itu pastinya jadi malaikat. Seperti halnya yang terjadi pada diri saya ini. Pagi- pagi setelah shalat subuh, sudah terpikirkan apa saja yang akan saya kerjakan pada hari ini, dan apa saja yang akan saya bawa pada hari ini. Dan rencana tersebut kembali saya ulang dalam hati biar tambah ingat. Tapi anehnya, pasti ada saja yang ketinggalan. Dan kalau sudah begitu, paling saya cuma bisa berkata lirih, "Yah lupa lagi".
Untuk penyakit ini, manusia memang jagonya. Dan memang belum ketemu kasusnya ada binatang yang pelupa. Bahkan untuk penyakit ini Tuhan sampai berkali- kali mengirimkan Nabi dan Rasul-Nya. Dengan tujuan agar bisa menyembuhkan, minimal mereduksi agar nggak sampai parah bener. Maksudnya penyakit lupa yang coba disembuhkan itu adalah lupa akan orientasi hidupnya. Seperti maksud tujuan awal penciptaan manusia, yaitu sebagai abdi Tuhan, sebagai wakil-Nya di bumi, dan terakhir sebagai pemberi rahmat kepada alam sekitar. Dan karena parahnya penyakit ini, sampai 25 Nabi dan Rasul yang turun untuk membereskannya. Hasilnya, mereka kembali lupa.
Kata kawan saya, sebenarnya orang lupa itu sebenarnya ingat. Karena ketika dia sadar telah lupa akan sesuatu, pada saat itu sebenarnya dia telah ingat. Benar nggak sich. Tapi memang kawan saya itu sudah kebanyakan membaca buku- buku filsafat. Namun terlepas dari itu, sifat lupa yang mendarah daging pada diri manusia itu, telah cukup membuat kerusakan yang berarti di muka bumi. Lupa bahwa dia hanyalah seorang hamba dari Yang Maha Besar, membuat dia berani memproklamirkan dirinya sebagai tuhan. Dengan angkuhnya menganeksasi wilayah lain dan menjajahnya. Atau dia lupa kalau dia harus mampu menjadi wakil-Nya di muka bumi ini, bukan sebagai kaum yang mau ditindas. Yang berarti juga dia harus menerapkan hukum buatan Tuhannya, dan bukan hukum- hukum buatannya sendiri. Dan dia lupa bahwa dia harus dapat memberi kebaikan pada lingkungan sekitarnya. Bukannya malah menjadi aktor perusak dan penghancur.
Masalahnya sekarang tak akan ada lagi Nabi atau Rasul untuk memperbaiki semua ini. Tak ada lagi Nabi dan Rasul yang mengingatkan kita. Saat kesalahan terucap, saat kejahatan terbuat, lalu hati dan raga tersakiti, akankah kita berucap, "Yaaaa….. lupa lagi"??!

-CHe-

Leave a Reply