Yaaaah….lupa lagi

October 10th, 2006 by kiri

Memang benar kata orang, manusia itu tempatnya khilaf dan dosa. Kalau nggak berbuat seperti itu pastinya jadi malaikat. Seperti halnya yang terjadi pada diri saya ini. Pagi- pagi setelah shalat subuh, sudah terpikirkan apa saja yang akan saya kerjakan pada hari ini, dan apa saja yang akan saya bawa pada hari ini. Dan rencana tersebut kembali saya ulang dalam hati biar tambah ingat. Tapi anehnya, pasti ada saja yang ketinggalan. Dan kalau sudah begitu, paling saya cuma bisa berkata lirih, "Yah lupa lagi".
Untuk penyakit ini, manusia memang jagonya. Dan memang belum ketemu kasusnya ada binatang yang pelupa. Bahkan untuk penyakit ini Tuhan sampai berkali- kali mengirimkan Nabi dan Rasul-Nya. Dengan tujuan agar bisa menyembuhkan, minimal mereduksi agar nggak sampai parah bener. Maksudnya penyakit lupa yang coba disembuhkan itu adalah lupa akan orientasi hidupnya. Seperti maksud tujuan awal penciptaan manusia, yaitu sebagai abdi Tuhan, sebagai wakil-Nya di bumi, dan terakhir sebagai pemberi rahmat kepada alam sekitar. Dan karena parahnya penyakit ini, sampai 25 Nabi dan Rasul yang turun untuk membereskannya. Hasilnya, mereka kembali lupa.
Kata kawan saya, sebenarnya orang lupa itu sebenarnya ingat. Karena ketika dia sadar telah lupa akan sesuatu, pada saat itu sebenarnya dia telah ingat. Benar nggak sich. Tapi memang kawan saya itu sudah kebanyakan membaca buku- buku filsafat. Namun terlepas dari itu, sifat lupa yang mendarah daging pada diri manusia itu, telah cukup membuat kerusakan yang berarti di muka bumi. Lupa bahwa dia hanyalah seorang hamba dari Yang Maha Besar, membuat dia berani memproklamirkan dirinya sebagai tuhan. Dengan angkuhnya menganeksasi wilayah lain dan menjajahnya. Atau dia lupa kalau dia harus mampu menjadi wakil-Nya di muka bumi ini, bukan sebagai kaum yang mau ditindas. Yang berarti juga dia harus menerapkan hukum buatan Tuhannya, dan bukan hukum- hukum buatannya sendiri. Dan dia lupa bahwa dia harus dapat memberi kebaikan pada lingkungan sekitarnya. Bukannya malah menjadi aktor perusak dan penghancur.
Masalahnya sekarang tak akan ada lagi Nabi atau Rasul untuk memperbaiki semua ini. Tak ada lagi Nabi dan Rasul yang mengingatkan kita. Saat kesalahan terucap, saat kejahatan terbuat, lalu hati dan raga tersakiti, akankah kita berucap, "Yaaaa….. lupa lagi"??!

-CHe-

Muhasabah

October 5th, 2006 by kiri

49292051_b55ae82656_o
10 hari pertama bulan Ramadhan sudah lewat aja. Nggak terasa cepat banget. Dan apa yang saya lakukan selama bulan ini, cenderung seperti bulan- bulan lalu saja. Hampir nggak ada bedanya. Sebenarnya merugikan sich. Tapi kalau yang bicara nafsu, banyak banget alasannya. Mungkin karena saya belum dibenturkan dengan keadaan sulit saat berpuasa. Ini jadi mengingatkan saya pada buku yang saya pernah baca. Yaitu tentang kisah seorang tentara muslim Amerika, yang terkena fitnah dari pemerintahnya sendiri hingga dia dipenjara berbulan- bulan tanpa memperdulikan hak- haknya. Dan selama masa penahanannya itu dia tetap berpuasa. Sementara lingkungan penjara yang tidak kondusif seperti gangguan yang dia terima saat shalat, makanan penjara yang sengaja diberikan tidak halal, hingga kesempatan untuk mengaji yang dipersulit, justru menambah tebalnya iman.
Bertolak belakang dengan apa yang dia derita dengan yang saya alami sekarang, justru membuat saya menjadi pemalas. Semua kemudahan yang saya dapat menjadi cobaan sendiri buat saya. Dan saya gagal. Mungkin ini menjadi pembukti dari janji Alloh, bahwa manusia lebih tahan diuji dengan penderitaan daripada dengan kesenangan.
Tundukpadanya140
Dan saat malam tiba, saat kesunyian mulai menemani saya ke pembaringan. Saat itulah hati ini mulai bicara. Ingatan- ingatan tentang masa lalu, ketika kecil, lalu beranjak besar, sekolah, kemudian kuliah, lalu menikah, dan mempunyai anak, hingga sampai pada batas saya tak bisa lagi membayangi apa- apa lagi, saya diingatkan pada kematian.
Semua yang bernyawa pasti akan kembali pada Dia. Dan melihat bekal yang saya persiapkan selama ini, saya tak yakin dapat melaluinya dengan baik.
Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari akhir yang buruk. Wahai Zat yang selalu membolak- balikan hati ini, tetapkan hati pada jalan-Mu. Saat menerima kesulitan maupun kemudahan, kehinaan maupun kemuliaan, kesedihan maupun kesenangan. Robbana, dengan segala kekurangan dan ketidakpantasan, aku memohon.

-CHe-

Mau apa lagi…

October 2nd, 2006 by kiri

Setelah seminggu nggak masuk kantor karena libur dan cuti, rasanya fresh banget saat masuk kantor lagi. Seminggu nggak ketemu tampang- tampang bete dan stres. Seminggu nemenin Shamil di rumah. Main sepanjang waktu.
Dan selama libur itu, sebenarnya banyak ide- ide yang mau saya tumpahkan dalam blog ini. Tapi sekonyong- konyong semuanya hilang setelah berhadapan dengan layar komputer.
Ada satu yang jadi kegundahan hati saya selama menonton acara buka puasa dan sahur di teve. Koq semakin lama semakin jauh dari nilai Islami ya?! Lebih banyak lawakan, banyak tertawa, banyak kuis, tapi kosong. Saya melihat sepertinya yang mau dituju itu nggak ada. Muatan Islamnya sangat sedikit. Ustad atau orang berkompeten di bidang itupun mendapat porsi yang sangat sedikit untuk membagi ilmunya. Dan cenderung untuk dipinggirkan.
Kuisnya yang banyak itu, malah menjadi bahan lelucon. Pertanyaan- pertanyaan dengan jawaban yang sejujurnya, mungkin bisa jadi tolak ukur umat muslim saat ini, sangat mudah. Bahkan keponakan saya yang masih belajar di TKA saja bisa menjawabnya. Dan tragisnya ada saja yang salah dalam menjawabnya.
Kalau sudah begitu, saya berharap ada pertandingan bola pada saat sahur. Entah siaran langsung atau tunda.
Saya tak ingin dibilang sok bijaksana. Saya hanya mengkhawatirkan anak- anak saya. Apa yang terjadi hari ini, (tanpa bermaksud mendahului Alloh) mungkin bisa lebih parah di kemudian hari. Walau tak tertutup kemungkinan dengan kekuasaan-Nya, semua bisa menjadi lebih baik.

-CHe-

Tuhan saya beda

September 23rd, 2006 by kiri

Allahclouds
Belasan tahun saya telah terbiasa dengan ajaran Pancasila, terutama dengan sila pertamanya. Dan seorang kawan saya malah merasa tersinggung dengan pernyataan sila ini, yang dianggapnya menyamaratakan Tuhannya dengan Tuhan- tuhan lainnya. Kupikir masuk akal. Siapa yang mau menyamakan kekasih kita, atau orangtua kita dengan individu lain yang mungkin lebih jelek dari mereka. Di salah satu blog kawan saya tertulis kalau dia menulis kalau sebenarnya kita semua menyembah  pada Tuhan yang sama. Benarkah?
Mungkin dia tidak sendiri. Dari pengamatan saya pribadi pendapat bahwa "kita menyembah pada Tuhan yang sama dengan cara yang berbeda" telah populer. Terima kasih untuk Pancasila. Dan keadaan ini dikuatkan oleh media masa, yang senang menggembar- gemborkan kehidupan pasangan beda agama yang dapat hidup harmonis.
Allahterrecoran
Tapi untuk saya, Tuhan saya beda. Bagaimana saya menggambarkan Tuhan yang saat ini saya masih sembah, dengan Tuhan yang lainnya? Mungkin seperti ini. Jika Tuhan yang lain butuh berhari- hari untuk menciptakan alam ini, Tuhan saya tidak. Cukup dengan satu kehendak, semuanya terwujud. Saat Tuhan yang lain butuh untuk disembah, Tuhan saya tidak. Bahkan jika ada satu generasi yang tidak menyembahnya, Dia akan menggantinya dengan satu generasi lain yang mau. Bila hamba Tuhan yang lain butuh perantara agar permohonannya sampai ke-Dia, Tuhan saya tidak. Cukup secara pribadi, dalam keadaan apapun, lisan maupun dalam hati. Bahkan hanya baru berupa niat.
Betapa indahnya Tuhan yang saya sembah. Dia bukan Tuhan yang menyuruh hambanya untuk memberikan bagian tubuhnya yang lain untuk disakiti, setelah bagian lainnya disakiti terlebih dulu. Atau yang senang membuat hambanya bingung dengan segala cerita yang tidak masuk akal dalam kitabnya, yang pada akhirnya hanya akan menjadi dongeng karena hal tersebut tidak mungkin terjadi.
Jadi saya pikir jika ada dua pasang manusia. Yang masing- masing memiliki Tuhan yang berbeda. Ya.. tidak mungkinlah bersatu dalam satu frame yang bernama keluarga. Yang Satu memperbolehkan makan  dan minum apapun, dan yang Lainnya hanya memperbolehkan makan dan minum dari sesuatu yang Dia anggap baik untuk hambanya. Yang Satu membiarkan pemisahan Dirinya dari kehidupan hambanya, Yang Lainnya menuntut totalitas dari hambanya. Dan banyak perbedaan lainnya yang cenderung melemahkan kekuatan rohaninya, dan menguatkan nafsunya.   
Akhirnya, ini hanyalah sebuah uneg-uneg dari saya yang coba saya lepaskan agar dapat meringankan kepala saya. Kebenaran dari isi tulisan saya inipun mungkin masih bisa diperdebatkan. Toh pemilik kebenaran hakiki hanyalah Dia, pemilik tubuh ini. Dan semua kesalahan dalam tulisan ini merupakan sumbangan dari setan sang musuh abadi.

-CHe-

Ada …..

September 21st, 2006 by kiri

Ada orang yang takut sama hantu, jin, tuyul, kunti, dan mahkluk halus lainnya. Saking takutnya kadang jadi parno sendiri. Terus kalau mau ke suatu tempat sendirian, pasti minta di temani. Kalau nggak, ya… nggak jadi pergi. Walaupun kebelet.
Ada orang yang takut sama orangtuanya. Saking takutnya jadi nggak jujur. Karena kalau jujur malah lebih runyam urusannya. Terus kalau mau melakukan sesuatu yang kira- kira bakal dilarang sama ortunya, dia akan lakukan diam- diam. Underground. Kalau pacaran dilarang, dia lakukan secara backstreet. Tahu- tahu, malah jadi nggak beres urusannya.
Ada orang yang takut sama bos, atau pimpinan tempat dia bekerja. Saking takutnya kadang sering membuatnya jadi bukan dirinya. Jadi orang lain. Seperti punya kepribadian ganda. Kalau ada kebijakan bosnya yang nggak sesuai dengan keinginannya, dia cuma berani ngedumel di belakang. Paling banter cerita ke temannya. Tapi nggak pernah sampai membuat protes. Karena dia takut sama bosnya, jadi dia juga berusaha membuat bawahannya takut sama dia. Dengan begitu dia tetap masih bisa menyalurkan kefrustasiannya. Kalau dia kena marah bosnya, bawahannya pasti juga kena efeknya. Dan karena takut sama bosnya, dia jadi penjilat. Apapun dia lakukan untuk membuat bosnya senang.
Ada orang yang takut sama pencopet, maling, perampok, dan semua teman penjahat. saking takutnya membuat dia menjadi waspada. Tapi karena berlebihan, malah jadi parno. Semua orang diwaspadai. Semua orang dicurigai. Pikirannya jelek aja. Kalau kemana- mana, persiapannya lengkap. Dompet ditaruh di dalam celana, yang dilapisi celana lagi. Walhasil, dia selalu berdobel- dobel ria dalam berpakaian. Lebih baik kepanasan, daripada jadi korban kejahatan.
Masih banyak lagi macam- macam orang dengan ketakutan yang berbeda. Tapi satu ketakutan yang selalu aku inginkan, yaitu takut kepada Alloh. Hal yang paling sulit untuk dilakukan. Terbiasa untuk meminggirkan-Nya, menyangkal keberadaan-Nya, dan pada akhirnya, berani melawan-Nya.
Demi Zat yang memiliki jiwaku, jiwa orang- orang yang kukasihi, dan semua yang berada di bawah kaki langit, aku berlindung dari semua perasaan jahat, perasaan untuk bersahabat dengan musuh abadiku, setan yang sombong. Aku berlindung dari keinginan untuk menduakan-Mu. Keinginan untuk membuat-Mu marah. Yaa Rahman, Yaa Rahim, dengan segala kerendahan, kehinaan, dan ketakberdayaan yang selalu menyelimutiku, kabulkanlah permohonanku ini.

-CHe-

Sekali lagi

September 19th, 2006 by kiri

Sekali lagi umat Islam mendapatkan cobaan. Sekali lagi umat Islam mendapat hinaan. Dan kali ini datangnya dari pemimpin agama yang harusnya, dari mulutnya muncul kata- kata yang dapat meredakan semua ketegangan ini. Saya pribadi melihat ini merupakan cerminan dari semua yang ada di kepala orang di luar Islam. Ini merupakan pernyataan dari ketakutan seseorang yang mempunyai pengetahuan yang minim tentang Islam. Yang pada akhirnya, pernyataan-pernyataan Paus sebagai pandangan gereja Katolik terhadap Islam.
“Ajaran Kristiani selalu terikat dengan logika. Kaum Kristiani berbeda
pandangan dengan orang-orang yang yakin dengan pola penyebaran agamanya
dengan pedang,” demikian ungkap Paus seperti dilansir Reuters. Begitukah Islam dalam pandangannya, atau hanya itu saja yang beliau ingin ketahui dari Islam?
Seandainya beliau tahu, Islam adalah agama untuk keselamatan seluruh alam. Tidak hanya pada masa damai, namun juga pada masa perang. Kami kaum Muslimin dilarang keras untuk menyakiti wanita, anak- anak, orang tua, pohon, dan rumah ibadah, saat berperang. Hal yang tak pernah terjadi jika kaum palangis sedang berperang. Tak bisakah beliau melihat bukti sejarah,  bagaimana Solahuddin memperlakukan tawanan perang saat perang salib? Hal yang tak pernah terjadi pada kaum palangis saat mereka berperang.
Beliau telah meminta ma’af. namun seharusnya beliau mengucapkan:“Saya mengakui apa yang saya ucapkan, saya melihat Islam adalah sesama
agama langit, agama yang memiliki kasih sayang, perdamaian,
koeksistensi, persaudaraan dan keadilan antara manusia. Dan apa yang
telah disebutkan tentang keburukan Islam menyebarkan agama dengan
pedang adalah perkataan yang tidak benar dan bertentangan dengan
sejarah.”
Kami agama damai, tapi kami tak pernah dapat mentoleransi apapun yang berarti merendahkan agama kami. Semoga ini menjadi yang terakhir!

Sang harimau yang terluka

September 2nd, 2006 by kiri

Bila saja semua ini berawal dari arah yang berbeda,
dari kumpulan,
mimpi dan jiwa yang berbeda,
demi masa yang mengikat raga,
ku yakin takkan begini jadinya.

Harimau takkan pernah melupakan warnanya,
taring dan cakarnya,
insting untuk membunuh mangsanya,
dan naluri untuk bertahan dan membela.

Semua yang telah dipaksa untuk pergi,
kini satu persatu datang menghampiri,
mencoba untuk tetap ada,
membuka kembali semua luka.

Harimau itu kini telah kembali,
setelah lama menghilang ke tanah tinggi,
demi warna, taring dan cakarnya,
harimau kembali terluka.

-CHe-

Hanya sekedar wacana….

August 26th, 2006 by kiri

Begini BOS, bagaimana kalau seandainya gaji saya dinaikkan lagi. Dengan semua hutang yang saya tanggung sekarang, rasanya semakin jauh saja saya mendapatkan rumah idaman saya. Atau mungkin ada yang memberi saya tempat kerja yang lebih baik bayarannya. Bukannya saya tidak bersyukur dengan semua yang telah saya dapat ini lho. Hanya saja, koq nggak berubah ya. Tapi itu hanya usulan lho.

Yang lainnya mungkin, bagaimana kalau seandainya orang lebih bisa mengerti saya. Berhenti memanggil Shamil dengan panggilan "Dede", atau laporan ke saya dulu kalau mau pinjam barang milik saya, atau berhenti mengganggu saya di saat saya ingin sendiri. Yah, itu sich kalau bisa. Kalau nggak juga nggak apa- apa koq.

Yang terakhir, walau ini hanya sekedar wacana, dan ANDA sendiri mungkin tidak butuh membaca semua ini lewat Blog ini, karena kemampuan serba tahu yang ANDA miliki. Dan paling- paling ini juga nggak ada yang baca. Tapi toh, lumayan melegakan juga. Jadi BOS, terima kasih atas segalanya.

The Shame of Being an American By Paul Craig Roberts

August 8th, 2006 by kiri

Gentle reader, do you know that Israel is engaged in ethnic cleansing in southern Lebanon? Israel has ordered all the villagers to clear out. Israel then destroys

their homes and murders the fleeing villagers. That way there is no one to come back and nothing to which to return, making it easier for Israel to grab the 

territory, just as Israel has been stealing Palestine from the Palestinians.

Do you know that one-third of the Lebanese civilians murdered by Israel’s attacks on civilian residential districts are children? That is the report from Jan geland,

the emergency relief coordinator for the UN. He says it is impossible for help to reach the wounded and those buried in rubble, because Israeli air strikes have

blown up all the bridges and roads. Considering how often (almost always) Israel misses Hizbollah targets and hits civilian ones, one might think that Israeli fire is

being guided by US satellites and US military GPS. Don’t be surprised at US complicity. Why would the puppet be any less evil than the puppet master?

Of course, you don’t know these things, because the US print and TV media do not report them. Because Bush is so proud of himself, you do know that he has

blocked every effort to stop the Israeli slaughter of Lebanese civilians. Bush has told the UN "NO." Bush has told the European Community "NO." Bush has told the

pro-American Lebanese prime minister "NO." Twice. Bush is very proud of his firmness. He is enjoying Israel’s rampage and wishes he could do the same thing in

Iraq.

Does it make you a Proud American that "your" president gave Israel the green light to drop bombs on convoys of villagers fleeing from Israeli shelling, on

residential neighborhoods in the capital of Beirut and throughout Lebanon, on hospitals, on power plants, on food production and storage, on ports, on civilian

airports, on bridges, on roads, on every piece of infrastructure on which civilized life depends?

Are you a Proud American? Or are you an Israeli puppet? On July 20, "your" House of  Representatives voted 410-8 in favor of Israel’s massive war crimes in

Lebanon. Not content with making every American complicit in war crimes, "your" House of Representatives, according to the Associated Press, also "condemns

enemies of the Jewish state."

Who are the "enemies of the Jewish state"? They are the Palestinians whose land has been stolen by the Jewish state, whose homes and olive groves have been

destroyed by the Jewish state, whose children have been shot down in the streets by the Jewish state, whose women have been abused by the Jewish state. They

are Palestinians who have been walled off into ghettos, who cannot reach their farm lands or medical care or schools, who cannot drive on roads through

Palestine that have been constructed for Israelis only. They are Palestinians whose ancient towns have been invaded by militant Zionist "settlers" under the

protection of the Israeli army who beat and persecute the Palestinians and drive them out of their towns. They are Palestinians who cannot allow their children

outside their homes because they will be murdered by Israeli "settlers."

The Palestinians who confront Israeli evil are called "terrorists." When Bush forced free elections on Palestine, the people voted for Hamas. Hamas is the

organization that has stood up to the Jewish state. This means, of course, that Hamas is evil, anti-Semitic, un-American and terrorist. The US and Israel responded

by cutting off all funds to the new government. Democracy is permitted only if it produces the results Bush and Israel want.

Israelis never practice terror. Only those who are in Israel’s way are terrorists. Another enemy of the Jewish state is Hizbollah. Hizbollah is a militia of Shia

Muslims created in 1982 when Israel first invaded Lebanon. During this invasion the great moral Jewish state arranged for the murder of refugees in refugee

camps. The result of Israel’s atrocities was Hizbollah, which fought the Israeli army, defeated it, and drove it, with its Satanic tail between its legs, out of Lebanon.

Today Hizbollah not only defends southern Lebanon but also provides social services such as orphanages and medical care.

To cut to the chase, the enemies of the Jewish state are any Muslim country not ruled by an American puppet friendly to Israel. Egypt, Jordan, Saudi Arabia, and

the oil emirates have sided with Israel against their own kind, because they are dependent either on American money or on American protection from their own

people. Sooner or later these totally corrupt governments that do not represent the people they rule will be overthrown. It is only a matter of time.

Indeed Bush and Israel may be hastening the process in their frantic effort to overthrow the governments of Syria and Iran. Both governments have more popular

support than Bush has, but the White House Moron doesn’t know this. The Moron thinks Syria and Iran will be "cakewalks" like Iraq, where ten proud divisions of

the US military are tied down by a few lightly armed insurgents. If you are still a Proud American, consider that your pride is doing nothing good for Israel or for

America.

On July 20 when "your" House of Representatives, following "your" US Senate, passed the resolution in support of Israel’s war crimes, the most powerful lobby in

Washington, the American Israeli Public Affairs Committee (AIPAC), quickly got out a press release proclaiming "The American people overwhelming support

Israel’s war on terrorism and understand that we must stand by our closest ally in this time of crisis."

The truth is that Israel created the crisis by invading a country with a pro-American government. The truth is that the American people do not support Israel’s

war crimes, as the CNN quick poll results make clear and as was made clear by callers into C-Span. Despite the Israeli spin on news provided by US "reporting," a

majority of Americans do not approve of Israeli atrocities against Lebanese civilians. Hizbollah is located in southern Lebanon. If Israel is targeting Hizbollah,

why are Israeli bombs falling on northern Lebanon? Why are they falling on Beirut? Why are they falling on civilian airports? On schools and hospitals? Now we

arrive at the main point. When the US Senate and House of Representatives pass resolutions in support of Israeli war crimes and condemn those who resist Israeli

aggression, the Senate and House confirm Osama bin Laden’s propaganda that America stands with Israel against the Arab and Muslim world. Indeed, Israel,

which has one of the world’s largest per capita incomes, is the largest recipient of US foreign aid. Many believe that much of this "aid" comes back to AIPAC, which

uses it to elect "our" representatives in Congress.

This perception is no favor to Israel, whose population is declining, as the smart ones have seen the writing on the wall and have been leaving. Israel is

surrounded by hundreds of millions of Muslims who are being turned into enemies of Israel by Israel’s actions and inhumane policies. The hope in the Muslim

world has always been that the United States would intervene in behalf of compromise and make Israel realize that Israel cannot steal Palestine and turn every

Palestinian into a refugee.

This has been the hope of the Arab world. This is the reason our puppets have not been overthrown. This hope is the reason America still had some prestige in the

Arab world. The House of Representatives resolution, bought and paid for by AIPAC money, is the final nail in the coffin of American prestige in the Middle East.

It shows that America is, indeed, Israel’s puppet, just as Osama bin Laden says, and as a majority of Muslims believe.

With hope and diplomacy dead, henceforth America and Israel have only tooth and claw. The vaunted Israeli army could not defeat a rag tag militia in southern

Lebanon. The vaunted US military cannot defeat a rag tag, lightly armed, insurgency drawn from a minority of the population in Iraq, insurgents, moreover, who

are mainly engaged in civil war against the Shia majority.

What will the US and its puppet master do? Both are too full of hubris and paranoia to admit their terrible mistakes. Israel and the US will either destroy from the

air the civilian infrastructure of Lebanon, Palestine, Syria, and Iran so that civilized life becomes impossible for Muslims, or the US and Israel will use nuclear

weapons to intimidate Muslims into acquiescence to Israel’s desires.

Muslim genocide in one form or another is the professed goal of the neoconservatives who have total control over the Bush administration. Neocon godfather

Norman Podhoretz has called for World War IV (in neocon thinking WW III was the cold war) to overthrow Islam in the Middle East, deracinate the Islamic

religion and turn it into a formalized, secular ritual.

Rumsfeld’s neocon Pentagon has drafted new US war doctrine that permits pre-emptive nuclear attack on non-nuclear states. Neocon David Horowitz says that by

slaughtering Palestinian and Lebanese civilians, "Israel is doing the work of the rest of the civilized world," thus equating war criminals with civilized men.

Neocon Larry Kudlow says that "Israel is doing the Lord’s work" by murdering Lebanese, a claim that should give pause to Israel’s Christian evangelical

supporters. Where does the Lord Jesus say, "go forth and murder your neighbors so that you may steal their lands"? The complicity of the American public in

these heinous crimes will damn America for all time in history.

COPYRIGHT CREATORS SYNDICATE, INC.

Paul Craig Roberts [email him] was Assistant Secretary of the Treasury in the Reagan  Administration. He is the author of Supply-Side Revolution : An Insider’s

Account of Policymaking  in Washington; Alienation and the Soviet Economy and Meltdown: Inside the Soviet Economy,  and is the co-author with Lawrence M.

Stratton of The Tyranny of Good Intentions : How  Prosecutors and Bureaucrats Are Trampling the Constitution in the Name of Justice. Click here for Peter

Brimelow’s Forbes Magazine interview with Roberts about the recent epidemic of prosecutorial misconduct.

It’s Only A Freakin’ Jokes

February 17th, 2006 by kiri

Showletter

Hitler_anne_frank

Spielberg_holocaust_denial_ael

Holocaust_denial_ael

Taken from Wikinews.