Dari seorang kawan (3)

February 10th, 2006 by kiri

Sujud1Intinya, sebagai umat Islam kita wajar marah dan hati kita harus sedih karena orang yang kita cintai, kasihi dan teladani sudah dijadikan lelucon dan dilecehkan. Nabi Muhammad adalah sosok mulia dalam Islam yang pasti mendapat tempat khusus di sanubari kita. Kita harus membela kemuliaannya; jika tidak bisa dengan tangan maka dengan lidah dan jika tidak bisa dengan lidah maka dengan hati. Tapi kita harus menghindari perbuatan anarkis. Sesuai ajakan Aa Gym dan Bang Dien Syamsuddin bahwa kemarahan kita harus diluapkan dalam koridor-koridor kebeningan hati dan akhlak yang mulia.

AqshaIni sejalan dengan firman Allah yang mewajibkan kita menyeru kepada Islam dengan hikmah dan contoh yang baik. Kalaupun harus berdebat dan berbantah-bantahan maka debat dan bantahlah mereka dengan cara sebaik-baiknya. Karena Allah lebih mengetahui mana orang-orang yang sesat dan mana orang-orang yang mendapat petunjuk. Dengan begitu kita juga belajar menjadi manusia
yang bijak.

Mari kita semua jadikan kejadian ini sebagai hikmah yang mengandung banyak nilai bagi pendewasaan kehidupan beragama. Kita berusaha memaafkan kebodohan dan keangkuhan mereka untuk memberi mereka kesempatan berpikir, memahami dan selanjutnya menghormati Islam. Di masa-masa yang akan datang diharapkan mereka akan semakin obyektif dan introspeksi diri untuk lebih dapat menghormati kita. Kalaupun tidak, kita serahkan semua kepada Allah. Nabi tak perlu dibela dengan Anarkis.

Dari seorang kawan (2)

February 10th, 2006 by kiri

SpecialforcompDari mulai Front Pembela Islam (FPI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Ahlul
Beyt Indonesia (ABI), Laskar Jihad, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Muhammadiyah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersuara sama; mengutuk keras pelecehan Islam dan penghinaan Nabi Muhammad ini. Sayangnya, sebagian umat Islam terprovokasi untuk bertindak anarkis.

Padahal Nabi sendiri pernah bersabda bahwa Allah itu Maha Lemah Lembut dan menyukai kelemah-lembutan dalam segala hal. Karena sifat dan perilaku manusia bermacam-macam. Ada yang mudah diberitahu dan tunduk pada kebenaran, ada pula yang keras kepala dan menantang. Sikap lemah-lembut dibutuhkan dalam menghadapi manusia tipe yang terakhir ini. Lemah lembut, setidaknya terdiri dari dua unsur; sabar dan pemaaf.

AlquranNabi Muhammad pernah mengibaratkan orang awam yang membencinya seperti Unta peliharaannya yang lepas. Hanya beliau yang mampu menjinakkannya karena sudah mengetahui dan memahami sifat-sifatnya. Jadi apapun tingkah Unta yang menyebalkan itu dapat dimaklumi mengingat keterbatasannya.

Kesabaran Nabi Muhammad membuahkan banyak hasil. Banyak yang memeluk Islam lantaran kesabaran beliau. Banyak pula pertengkaran dan pertumpahan darah yang dapat dihindari. Berkaitan dengan hal ini, dalam salah satu khutbahnya beliau bersabda; Di kalangan manusia ada orang yang tidak cepat marah dan cepat kembali tenang. Ada yang tidak cepat marah dan tidak cepat kembali tenang. Ada juga diantara mereka yang tidak cepat kembali tenang dan cepat marah. Masing-masing berlainan. Yang terbaik di antara mereka adalah yang tidak cepat marah dan cepat kembali tenang. Dan yang terburuk di antara mereka adalah yang cepat marah dan tidak cepat kembali tenang.

27septPada hadits lain yang diriwayatkan Thabrani, Nabi Muhammad menyebutkan bahwa sebagian dari hal-hal yang memperkokoh bangunan iman dan meninggikan derajat adalah mampu bersabar menghadapi gangguan orang bodoh dan memaafkan orang yang telah berbuat dzalim kepada dirimu. Dalam situasi seperti ini, umat Islam harus berpikir jernih, sehingga mampu sabar dan tidak terjebak dalam tindakan emosional yang negatif bahkan anarkis. Hati boleh panas tapi kepala tetap dingin sehingga mampu memaafkan. Kita harus berusaha menjadi yang terbaik dan menghindari menjadi yang terburuk. Menghadapi Denmark yang bodoh, keras kepala dan dzalim, umat Islam harus ikhlas untuk tetap sabar dan memaafkan.

Rasa marah hanya salah satu bentu emosi yang paling destruktif dalam diri manusia. Nabi Muhammad selalu mengajarkan umat Islam untuk mengendalikan emosi, karena marah itu amat tercela. Beliau menganggap marah itu musuh dari akal sehat. Marah dapat merusak iman seperti halnya nila merusak madu. Sangat bahaya dan harus dihindari! Oleh karena itu orang terkuat
adalah orang yang mampu mengendalikan diri saat ia sedang marah.

IslamKemarahan yang sudah timbul akan lebih mudah terprovokasi melakukan berbagai hal anarkis yang
bertentangan dengan nilai-nilai moral Pancasila dan Akhlakul Karimah. Merusak, membakar, menghancurkan, menghujat bukanlah ciri dari Islam sebagai dien yang kamil dan rahmat bagi alam semesta. Sebaliknya, akan memberikan citra negatif kepada dunia dan pembenaran terhadap jargon fitnah yang sudah ratusan tahun didengungkan bahwa Islam itu agama pedang.

PrayingKita juga harus kembali kepada esensi terlarangnya pencitraan Nabi Muhammad dalam berbagai bentuk. Apalagi kalau diabadikan dalam bentuk lukisan, gambar atau bahkan patung yang kemudian dianggap dapat menjadi perantaraan ibadah kepada Allah. Islam telah belajar banyak dari agama- agama sebelumnya yang terjebak dalam pengkultusan tokoh agamanya. Nabi Muhammad tidak minta dikultuskan. Umat Islam sebagai pengikutnya hanya diminta untuk meneladani tingkah lakunya yang paripurna dan ajarannya yang lurus. Pencitraan Nabi takkan memberikan manfaat, justru memberikan mudharat dan menimbulkan fitnah.

Dari seorang kawan (1)

February 9th, 2006 by kiri

Story1478489Memasuki bulan kelima pasca penerbitan
pencitraan Nabi dalam bentuk karikatur di harian
Jyllands Postens, gelombang aksi protes semakin
meluas di seluruh dunia. Hampir semuanya diwarnai dengan bentrokan dan berakhir rusuh. Di Afghanistan, Somalia dan Lebanon bahkan jatuh korban tewas.

Permintaan maaf harian Jyllands Postens akhir bulan lalu menjadi tak berarti karena koran-koran lain latah menerbitkannya, seperti Perancis, Norwegia, Italia, Jerman, Spanyol, Finlandia, Ukraina, Bulgaria, Swiss, Hungaria, Polandia, Amerika Serikat, Selandia Baru hingga Malaysia dan Indonesia. Di Malaysia, gambar kontroversial itu dimuat Sarawak Tribune; Asisten redakturnya langsung meminta maaf dan mengundurkan diri. Sedangkan di Indonesia, kesalahan itu dilakukan Tabloid Peta; Semua cetakan edisi itu ditarik dari peredaran dan jajaran redaksinya diperiksa intensif pihak kepolisian.

Denmark kemudian menghadapi kemarahan Gaza2ap416
membabi buta yang luar biasa dari umat Islam di
seluruh pelosok bumi. Beberapa kedutaan besar
dan konsulatnya dibakar, warga sipilnya jadi sasaran teror, misi diplomatiknya diserang dan produknya diboikot bahkan atlet-atletnya dijauhi  Indonesia membatalkan uji coba bulutangkisnya dengan Denmark.

Selain hal-hal tersebut diatas, umat Islam di tiap
negara melakukan aksi berbeda-beda. Arab Saudi
menarik dubesnya dan bersama negara-negara
OKI menyampaikan nota protes. Di Kashmir terjadi pemogokan besar-besaran. Sedang di Pakistan,
para dokter memboikot penggunaan obat-obatan produksi Eropa pada umumnya dan Denmark pada
khususnya.

Sementara di Iran, sebuah harian terbesar, Iran
Hamshahri, membuat kompetisi karikatur bertema Holocaust (pembantaian warga Yahudi oleh Nazi). Kontes ini selain untuk menilai standar ganda Eropa dan Amerika Serikat juga sebagai aksi balasan bagi Jylland Posten dan harian Eropa lainnya. Iran menganggap Israel ikut bermain dalam kejadian ini. 12 pemenangnya akan mendapat dua koin emas dan karya-karyanya dipublikasikan di harian itu.

Melihat kondisi yang tidak lagi kondusif dan mengarah kepada krisis global, Denmark mengeluarkan travel warning untuk 14 negara, delapan diantaranya di Asia dan enam sisanya di Afrika.

Anders Fogh Rasmussen, Perdana Menteri Palistinewalk
Denmark terkesan pasif. Ia sangat khawatir dengan dampak penerbitan karikatur Nabi Muhammad bagi negaranya tapi tidak mau meminta maaf atas perilaku SARA yang dilakukannya. Ia beralasan itu masih dalam batas wajar hukum yang berlaku setempat dan mendukung sepenuhnya kebebasan pers.

Padahal, Vatikan sudah mengingatkan arti pentingnya toleransi antar umat beragama. Vatikan menghimbau agar kebebasan berekspresi tidak berarti menyakiti keyakinan dan kepercayaan agama lain. Tapi Denmark acuh.

Di Indonesia, reaksi umat Islam tak kalah sengitnya. Simbol-simbol negara Denmark dihancurkan, Benderanya dibakar dan ratusan kalimat-kalimat hujatan terpampang dalam poster, brosur dan spanduk tiap kelompok pendemo. Apalagi, mengingat PM Denmark tidak juga mau meminta maaf. Padahal  umat Islam di Indonesia
menganggap  jika Denmark berbesar hati menyatakan permohonan maaf pada seluruh umat Islam di dunia maka masalah akan selesai.

Bagi umat Islam Indonesia, kasus penghinaan Imagelhr10502061429
Nabi Muhammad di media massa bukanlah yang pertama. Puluhan tahun yang lalu, Arswendo Atmowiloto dengan Tabloid Monitornya pernah mengadakan sayembara Tokoh Idola. Hasil akhirnya menempatkan Soeharto di peringkat pertama dan Nabi Muhammad di peringkat sepuluh. Umat Islam mengamuk menghancurkan kantor redaksi, pemerintah membreidel tabloid Monitor dan Arswendo sendiri mendekam dalam
penjara dengan pasal penghinaan agama.

Sekarang, aksi sporadis berlangsung dimana- mana; Di Aceh, massa meminta pemerintah tidak menerima dan menyalurkan bantuan Denmark dalam bentuk apapun. Di Bandung, para pendemo
meminta pemerintah memutuskan hubungan diplomatik sementara. Sedangkan di Makassar,
para mahasiswa masuk ke mal-mal dan mengajak para pengunjung memboikot produk-produk
Denmark.

Please Don’t Insult Us!

February 7th, 2006 by kiri

Bangladesh

_15640_demo222006_1

160x_ap_denmark_riots_06020_1




Afghanistan_1

Istanbulafp416

Imagejrl10801301143





Gaza

Irag

Burnb






England






Palistineflag












Ucartoon












Surabayaafp416






London

Iseng- iseng

February 3rd, 2006 by kiri

Iseng- iseng dalam kesendirian ini saya berpikir (walau sungguh disayangkan kalau berpikir hanya untuk iseng- iseng), betapa pentingnya memberontak. Dan memang dunia ini akan selalu membutuhkannya. Mana bukti empirisnya? Hanya orang tolol saja yang masih menyangsikannya. Mulai dari para nabi yang melakukan pemberontakan atas kemapanan jahiliyah, hingga nabi- nabi kontemporer yang dengan niatan yang hampir sama dengan pendahulunya.

Kenapa harus memberontak? Sebelumnya harus dilihat dulu pemicunya. Dalam sejarah ada dua agama mendasar, ada dua kelompok, ada dua pihak. Satu pihak menindas, musuh kemajuan, kebenaran, keadilan, kebebasan rakyat, pembangunan dan peradaban. Pihak ini meligitimasi keserakahan dan menyelewengkan instink dan menegakkan dominasinya atas masyarakat dan untuk menindas orang lain. Dan pihak yang lain adalah pihak agama yang benar dan diturunkan untuk menghancurkan pihak lawan. Kesimpulannya pihak pertama menjadi pemicu munculnya pemberontakan yang berasal dari pihak kedua.

Jika dulu saat para Nabi penggembala kambing (Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad, salam sejahtera atas mereka semua) melakukan pemberontakan, keadaannya juga tidak terlalu beda dengan sekarang. Mereka semua memberontak atas kemapanan agama- agama multiteisme yang berakar dari pemilikan minoritas atas mayoritas yang tertindas, legitimasi status quo, dan promosi superioritas kelas. Dan seperti janji Allah dalam Al Qur’an, semuanya akan kembali terulang. Semua yang terjadi pada mereka pada saat itu, kita rasakan kembali saat ini.

Jadi terjawab sudah mengapa kita harus memberotak. Saya tertarik dengan pernyataan Abu Dzar Al-Ghifari atas kegelisahannya dengan keadaan sekitarnya. Beliau berkata: "Aku bingung oleh orang yang tidak mempunyai sepotong roti pun di rumahnya. Mengapa ia tidak bangkit melawan orang- orang dengan pedang terhunusnya?" Mari kita lihat apa yang dikatakan Abu Dzar. Dia mengatakan, "Aku bingung…." Agama inilah yang sedang berbicara, bukan sekedar seseorang yang beragama. Secara esensi Abu Dzar tidak dipengaruhi oleh aliran pemikiran yang lain. Dia tidak mulai dari Revolusi Perancis melainkan dia berbicara kepada suku Ghifari. Dia berkata, "Aku bingung oleh orang yang tak mempunyai sepotong roti pun di rumahnya. Mengapa ia tidak bangkit melawan orang- orang dengan pedang terhunusnya?"

Dia tidak mengatakan, "Melawan orang yang membuatnya miskin, "Melawan golongan yang mengeksploitasi." Dia mengatakan, "Melawan orang- orang." Setiap orang. Karena setiap orang yang hidup dalam masyarakat, sekalipun mereka tidak berada di antara mereka yang mengeksploitasi yang lain, hanya karena kenyataan bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat, bahwa mereka hidup dalam suatu masyarakat di mana terdapat kemiskinan, maka mereka bertanggung jawab terhadap kemiskinannya dan kelaparannya. Karena mereka sama halnya dengan seorang musuh.

Bahkan Allah sendiri menyatakan dalam Al Qur’an: "Sesungguhnya orang- orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) para melaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?" Mereka menjawab: "Adalah kami orang- orang yang tertindas di muka bumi." Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah ke bumi itu?" Oran- orang itu tempatnya di neraka jahanam, Jahanam adalah seburuk- buruknya tempat kembali. Kecuali mereka yang tertindas, baik laki- laki atau perempuan, atau anak- anak yang tidak mampu berdaya upaya atau tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). Mereka itu mudah- mudahan Allah mema’afkannya. Dan Allah Maha Pema’af, Maha Pengampun." (An-Nisa 97-99)

Tuhan dan orang- orang yang tertindas membentuk satu barisan dalam Pentateuch dan Gospel (bagian- bagian yang belum diselewengkan sehingga memungkinkan dilakukannya deduksi dari bagian- bagian tersebut), dalam Al Qur’an dan di mana saja tanpa kecuali. Siapa yang menentang barisan ini? Para penyembah penguasa arogan yang melawan perintah- perintah Tuhan, taghuti. Dan selamanya akan terus menerus bangkit melawan semua penyelewengan ini,

-CHe-

 

Setelah masa itu ……..

February 2nd, 2006 by kiri

Ketika semua maksud telah terucap,
Ketika semua pengharapan telah terwujud,
Ketika banyak hati telah terlupakan,
Dan akan banyak lagi yang akan datang.

Yang lalu telah terkecap,
Yang akan datang menunggu wujud,
Bersama semua hati yang terlupakan,
Berharap akan selalu terkenang.

Aku mungkin telah berganti,
Bersama datangnya sang mentari,
Namun selamanya di sini berdiri,
Bersama kenangan yang hampir mati.

Adikku, kawanku, sahabatku,
Tak terlihat walau harus terbang bersama-Nya,
Dan akan semakin jauh, …jauh, …dan jauh.
Bersama dengan kenanganku dan milik-Nya.

Salahkan hari, salahkan malam,
Salahkan waktu, salahkan semua kesempatan ada,
Salahkan diriku yang terus bergumam,
Tanpa dapat melakukan apa- apa.

Kini setelah masa itu pergi,
Meninggalkan semua keindahan yang tak berperi,
Aku dan diriku, masih di sini,
Dan dirimu masih tetap berada di hati ini.

-CHe-

Nyanyian sepi

February 1st, 2006 by kiri


Orang- orang kecewa berbaju lusuh,
memandang cermin yang penuh debu,
tak mengenali apa yang dia lihat,
tak mengerti apa yang harus dia perbuat.

Orang- orang kecewa bertuhankan sepi,
terpinggirkan oleh banyak hati,
ditinggalkan masa yang melaju cepat,
sendiri,…. dengan tenggorokan yang tercekat.

Orang- orang kecewa telah dikhianati,
oleh para dewa, raja, dan orang- orang mati,
terlalu banyak kata yang telah keluar,
terlalu lama hatinya terbakar.

Orang- orang kecewa mencari kawan,
tanpa tahu…. ia telah lama ditinggalkan,
ia bersama hati dan dirinya,
memandangi cermin lusuh di hadapannya.

-CHe-

Yang Tercecer di Hari Kemenangan

December 2nd, 2005 by kiri

Semenjak peraturan konyol itu dibuat, sudah tak ada lagi yang baru di blog ini. Masih simpang siur kenapa peraturan itu dibuat. Tapi yang jelas mematikan kreativitas yang seharusnya dibiarkan mengalir deras.

Di Idul Fitri kemarin sebenarnya banyak cerita yang bisa kusimpan di blog ini. Apa daya, baru sekarang bisa. Dan banyak yang hilang di sana- sini. Mulanya aku pikir Idul Fitri kali ini hanya akan menjadi ritual biasa. Pasang muka manis, banyak senyum, minta ma’af dengan semua orang (bahkan dengan orang yang jarang sekali ketemu, beberapa malah cuma ngomong "minal aidin" saja tanpa mengerti arti dari dua kata tadi), terus berkunjung ke rumah sanak saudara, sambil tak lupa menyiapkan uang buat para keponakan. Intinya, seperti tulisan seorang Orientalis, Idul Fitri adalah perpaduan dari Natal, Paskah, dan Thanksgiving. Makna lainnya … semakin kabur.

Tapi ternyata tidak seburuk itu. Ada beberapa hari yang aku bisa nikmati. Walaupun itu hanya menjadi bagian kecil dari hari- hari yang panjang.

Ada kejadian unik yang sempat menarik perhatianku. Di hari kedua Idul Fitri, saat shalat Jum’at belum dimulai, kulihat seorang anak kecil dengan bersemangat mendatangi kotak amal. Mulanya tak ada yang istimewa dengannya. Dia memasukkan uang ke dalam kotak itu. Seribu rupiah, lalu seribu rupiah lagi, dan seribu rupiah lagi, lagi, lagi, dan lagi, hingga aku hilang hitunganku. Entah sudah berapa lembar uang seribu rupiah yang ia telah masukkan. Dan dari raut wajahnya, hanya perasaan exiting, gembira, tanpa bermaksud untuk pamer. Sontak hal ini menamparku. Sebelumya aku juga telah memasukkan uang ke dalam kotak amal ….dengan jumlah yang jauh lebih kecil ….dengan maksud mencemooh orang di sampingku yang diam saja saat kotak itu lewat di depannya. Dan kini, setelah kejadian tadi, rasanya aku yang telah dicemooh olehnya.

Subhanaallah! Hikmah selalu datang tanpa diduga. Mengingatkan diriku atas kekerdilanku. Menusuk tajam ke relung hati. Dan aku bersalah. Di saat aku menghakimi orang- orang awam, artis- artis, yang lebih senang menyebut Idul Fitri dengan kata Lebaran, aku mendapat peringatan keras dari Allah.

Yaa Allah, ini hamba-Mu memohon ampun-Mu. Dengan segala kefanaan, dan kekurangan, aku berserah diri.

Perang Eropa Sebelum Tidur

October 25th, 2005 by kiri

S3010225Aku tak pernah henti- hentinya bersyukur karena dikaruniai keluarga yang luar biasa. Istriku yang luar biasa, anak yang luar biasa, serta semua yang mendukung kehidupan kami.
Anakku Shamil Al-Ghivary, di usianya yang 5 bulan ini, tak henti- hentinya membuat aku kagum. Perkembangannya yang tiap hari selalu mengejutkan aku.
Aku ingat pertamakalinya ia merespon suaraku, saat aku mengadzaninya. Pertamakalinya bersuara, dan memanggilku ayah. Pertamakalinya ia menangis dan tertawa. Pertamakalinya ia membalikkan badan untuk telungkup. Lalu tak lama setelah itu, telentang. Bagaimana dia cepat sekali merespon semua yang kami ajarkan kepadanya. Lucu sekali melihat ia memegang tangan bundanya, lalu menciumnya, setiap hari sebelum istriku berangkat kerja.
S3010226Shamil Al-Ghivary, anak yang luar biasa. Sangat perhatian terhadap semua yang ia dapatkan dari orang- orang sekelilingnya. Orang- orang yang menyayanginya. Anak- anak kecil lain, mungkin masih harus mendengarkan dongeng tentang kisah putri raja dan pangeran. TApi Shamilku tidak. Saat inipun dia sudah tertarik dengan sejarah perang dunia II di Eropa. Apakah ini terlalu cepat baginya? Sejarah, hal yang akan terus berulang. Dengan aktor- aktor yang berbeda, teknologi yang berbeda, bangsa yang berbeda, namun ibroh yang sama.
Ibroh yang Allah coba sampaikan kepada manusia. Tentang pertentangan antara baik melawan jahat. Yang pada akhirnya dimenangkan si baik. Ku pikir Anakku Shamil harus mengetahuinya dari dini. Sedikit terobsesi? Mungkin. Tapi melihat kemajuan teknologi yang pesat kini, kita takkan pernah tahu, berapa banyak Ghozwul Fikri yang telah kita serap. Berapa banyak racun yang telah menetap di tubuh kita. Di pikiran kita dan di hati kita. Anakku Shamil akan hidup di masa seperti ini. Entah sejarah yang mana yang sedang terulang.
S3010227Kisah tentang umat- umat terdahulu adalah pelajaran bagi kita. Sebuah pelajaran yang kadang terlupakan begitu saja. Di setiap masa akan selalu muncul Habil melawan Qabil, Ibrahim melawan Thalmud, Musa melawan Fir’aun, Isa melawan kaisar Romawi, Muhammad melawan Kafir Quraisy, dan sekutu melawan fasis Jerman, Italy, dan Jepang.
Semua kehinaan yang menimpa umat saat ini, tak lepas dari kesalahan kita dalam tidak memanfaatkan sejarah. Islam di masa lalu yang gilang- gemilang bersama tokoh- tokoh seperti Ibnu Sina, Solahuddin Al Ayyubi, hingga para sahabat nabi, tampaknya harus menunggu lebih lama lagi untuk melihat generasi sesudah mereka dapat berjaya seperti mereka.
Bilang aku pesimis. Tapi melihat sistem kehidupan saat ini, tampaknya hal ini adalah sebuahS3010228 keniscayaan. Islam yang besar telah termarginalkan. Islam yang besar telah menjadi ritual semata. Dan kami umatnya telah lama memaklumkan keadaan ini.
Shamil anakku lahir setelah bencana besar melanda Nangroe Aceh Darussalam. Bencana yang mengambil jutaan nyawa. Hampir memusnahkan satu generasi. Hingga membuatku percaya bahwa kelahirannya, adalah untuk menggantikan generasi yang lama.
Perang Eropa sebelum tidur bukanlah untuk menghiasi tidurnya dengan mimpi buruk dari kekejaman perang. Namun hanya sekedar pendidikan untuknya agar dapat menghargai sejarah.

Bukan Warak!

October 18th, 2005 by kiri

Sufi_openingsApa sich yang kamu cari Rie? Pertanyaan itu tiba-tiba membuyarkan lamunanku di atas motor ojek ini. Angin pagi yang sejuk, kembali meringankan kepalaku. Kenapa pertanyaan itu bisa muncul?
Dulu sekali, aku sempat dibuat tak bisa tidur karena takut memikirkan aku harus disunat. Ritual yang wajib dijalani bagi seluruh anak- anak muslim. Hingga pada waktunya kemudian, perasaan itu hilang dengan sendirinya. Masa itupun lewat.
Atau aku pernah juga dibuat tak bisa tidur gara- gara besok aku harus ikut ospek. Ternyata, hanya segitu aja seramnya. Malah yang seharusnya aku mewaspadai ospek jurusan.
Malam- malam yang diisi dengan tidur yang tak nyenyak. Dengan sejuta alasan pemicunya. Hingga pada akhirnya, semuanya dapat dilewati.
Setiap aku berada dalam keadaan yang membuatku berada pada titik terendahku, aku selalu berpikir, ini semua pasti akan berakhir. Keoptimisan? Mungkin?!
9903thefinalentryHingga akhirnya, aku berada pada titik yang aku sendiri tak dapat mengerti. Aku memikirkan kematian. Apa yang terjadi di satu detik kemudian? Di satu menit kemudian? Di satu jam kemudian? Satu hari, satu bulan, satu tahun, satu dengan satuan hitung lainnya? Apa yang akan terjadi? Semakin aku pikirkan malah semakin gelap. Apakah aku siap untuk menerima kenyataan bahwa, semua yang aku kenal, yang aku sayangi meninggalkan diriku?
Tiga kali kehilangan kucing kesayanganku saja sudah cukup melemahkanku. Apalagi jika pertanyaan tadi menghantamku. Apakah aku siap untuk mati? Dengan bekal yang sekarang aku kumpulkan, aku rasa tidak!
Setiap pagi, dengan lamunan yang berbeda. Namun dengan pertanyaan yang sama, "Apa sich yang kamu cari Rie?"