Memasuki bulan kelima pasca penerbitan
pencitraan Nabi dalam bentuk karikatur di harian
Jyllands Postens, gelombang aksi protes semakin
meluas di seluruh dunia. Hampir semuanya diwarnai dengan bentrokan dan berakhir rusuh. Di Afghanistan, Somalia dan Lebanon bahkan jatuh korban tewas.
Permintaan maaf harian Jyllands Postens akhir bulan lalu menjadi tak berarti karena koran-koran lain latah menerbitkannya, seperti Perancis, Norwegia, Italia, Jerman, Spanyol, Finlandia, Ukraina, Bulgaria, Swiss, Hungaria, Polandia, Amerika Serikat, Selandia Baru hingga Malaysia dan Indonesia. Di Malaysia, gambar kontroversial itu dimuat Sarawak Tribune; Asisten redakturnya langsung meminta maaf dan mengundurkan diri. Sedangkan di Indonesia, kesalahan itu dilakukan Tabloid Peta; Semua cetakan edisi itu ditarik dari peredaran dan jajaran redaksinya diperiksa intensif pihak kepolisian.
Denmark kemudian menghadapi kemarahan 
membabi buta yang luar biasa dari umat Islam di
seluruh pelosok bumi. Beberapa kedutaan besar
dan konsulatnya dibakar, warga sipilnya jadi sasaran teror, misi diplomatiknya diserang dan produknya diboikot bahkan atlet-atletnya dijauhi Indonesia membatalkan uji coba bulutangkisnya dengan Denmark.
Selain hal-hal tersebut diatas, umat Islam di tiap
negara melakukan aksi berbeda-beda. Arab Saudi
menarik dubesnya dan bersama negara-negara
OKI menyampaikan nota protes. Di Kashmir terjadi pemogokan besar-besaran. Sedang di Pakistan,
para dokter memboikot penggunaan obat-obatan produksi Eropa pada umumnya dan Denmark pada
khususnya.
Sementara di Iran, sebuah harian terbesar, 
Hamshahri, membuat kompetisi karikatur bertema Holocaust (pembantaian warga Yahudi oleh Nazi). Kontes ini selain untuk menilai standar ganda Eropa dan Amerika Serikat juga sebagai aksi balasan bagi Jylland Posten dan harian Eropa lainnya. Iran menganggap Israel ikut bermain dalam kejadian ini. 12 pemenangnya akan mendapat dua koin emas dan karya-karyanya dipublikasikan di harian itu.
Melihat kondisi yang tidak lagi kondusif dan mengarah kepada krisis global, Denmark mengeluarkan travel warning untuk 14 negara, delapan diantaranya di Asia dan enam sisanya di Afrika.
Anders Fogh Rasmussen, Perdana Menteri 
Denmark terkesan pasif. Ia sangat khawatir dengan dampak penerbitan karikatur Nabi Muhammad bagi negaranya tapi tidak mau meminta maaf atas perilaku SARA yang dilakukannya. Ia beralasan itu masih dalam batas wajar hukum yang berlaku setempat dan mendukung sepenuhnya kebebasan pers.
Padahal, Vatikan sudah mengingatkan arti pentingnya toleransi antar umat beragama. Vatikan menghimbau agar kebebasan berekspresi tidak berarti menyakiti keyakinan dan kepercayaan agama lain. Tapi Denmark acuh.
Di Indonesia, reaksi umat Islam tak kalah sengitnya. Simbol-simbol negara Denmark dihancurkan, Benderanya dibakar dan ratusan kalimat-kalimat hujatan terpampang dalam poster, brosur dan spanduk tiap kelompok pendemo. Apalagi, mengingat PM Denmark tidak juga mau meminta maaf. Padahal umat Islam di Indonesia
menganggap jika Denmark berbesar hati menyatakan permohonan maaf pada seluruh umat Islam di dunia maka masalah akan selesai.
Bagi umat Islam Indonesia, kasus penghinaan 
Nabi Muhammad di media massa bukanlah yang pertama. Puluhan tahun yang lalu, Arswendo Atmowiloto dengan Tabloid Monitornya pernah mengadakan sayembara Tokoh Idola. Hasil akhirnya menempatkan Soeharto di peringkat pertama dan Nabi Muhammad di peringkat sepuluh. Umat Islam mengamuk menghancurkan kantor redaksi, pemerintah membreidel tabloid Monitor dan Arswendo sendiri mendekam dalam
penjara dengan pasal penghinaan agama.
Sekarang, aksi sporadis berlangsung dimana- mana; Di Aceh, massa meminta pemerintah tidak menerima dan menyalurkan bantuan Denmark dalam bentuk apapun. Di Bandung, para pendemo
meminta pemerintah memutuskan hubungan diplomatik sementara. Sedangkan di Makassar,
para mahasiswa masuk ke mal-mal dan mengajak para pengunjung memboikot produk-produk
Denmark.